Konten Negatif di Internet Ancam Anak2

Internet telah menjadi sebuah dunia tersendiri yang mampu membuat banyak orang
tertarik, termasuk anak-anak. Segala macam informasi dapat dijumpai di dunia
maya, mulai dari yang baik hingga berbahaya.

Perlu ada pemilahan mana konten yang layak dan tidak untuk konsumsi anak-anak. Konten informasi yang tidak layak ini berpotensi membahayakan sehingga internet menjadi sebuah dunia sekaligus sumber informasi yang berbahaya jika digunakan secara tidak semestinya dan tanpa pengawasan langsung dari orang tua.

Konten yang tidak layak untuk anak-anak di antaranya yaitu konten pornografi, kekerasan, obat-obat terlarang, perjudian, dan lainnya.

Menurut perusahaan keamanan Eset, berdasarkan hasil riset yang dilakukan ada 1 dari 7 orang anak berusia antara 10 sampai 17 tahun yang mengalami pelecehan seksual dalam bentuk ajakan untuk melakukan seks secara online.

Hal ini biasanya terjadi melalui media chatting, dan hanya dengan pencarian sederhana dengan menggunakan search engine, sudah mampu membuka 200 juta halaman porno di internet.

“Kondisi demikian memunculkan kepedulian di Eset, pencipta keamanan komputer kelas dunia yang berkantor pusat di Slowakia, sehingga kemudian melibatkan para orang tua sebagai sumber data untuk mengetahui potensi bahaya internet terhadap anak-anak,” tukas Eset, dalam keterangannya, Kamis (25/8/2011).

Para pengguna internet terutama orang tua di dunia banyak yang merasa khawatir terhadap potensi-potensi bahaya yang dihadapi oleh anak-anak saat mereka berinternet.

Menurut temuan yang diperoleh Online Security Brand Tracker, sebuah lembaga riset yang terlibat dalam melakukan proyek penelitian bersama dengan InSites Consulting (April – May 2011), lebih dari separuh pengguna internet atau sekitar (53,7%) menilai kerentanan anak-anak terhadap paparan konten yang tidak layak merupakan ancaman yang besar. Dimana 25,9% di antaranya menganggap sebagai ancaman terbesar, 14,6% menilainya sebagai ancaman yang sangat besar sementara 13,2% lainnya mengatakan
sebagai ancaman yang cukup besar.

“Ada beberapa prosedur keamanan sederhana yang harus dipahami oleh orang tua dan anak-anak yang ditujukan untuk menjauhkan anak-anak dari resiko bahaya selagi mereka berselancar di internet,”  imbuh Sebastian Bortnik, Awareness and Research Coordinator di Eset Center, Buenos Aires, Argentina.

sumber: detik.com

SMS Center, Cara Baru Berkomunikasi dg Ortu

Paradigma Baru

Tanpa publikasi yg gencar, perlahan dan pasti SAIMS terus memperbaiki cara berinteraksi dengan stakeholders utamanya. Salah satu yang inovatif adalah adanya SMS Center.

Secara teknologi, SMS bukan hal baru. Namun penggunaan SMS untuk meningkatkan pelayanan pendidikan kepada anak2 dan orangtuanya, adalah hal baru di SAIMS.

Melayani, itulah filosofi yang pas untuk menggambarkan upaya SAIMS dalam membangun SMS Center. Bersama dengan ForSAIMS, upaya penyiapan SMS Center dimulai dengan pembaharuan data orangtua dan ananda.

Selanjutnya diikuti dengan ujicoba penggunaan SMS Center. Beberapa tek-nologi dipilih untuk men-dapatkan sistem yang handal, simple, dan gak ribet.

Fungsi

Beberapa hal yang bisa dilakukan oleh SMS Center SAIMS antara lain:

  • Informasi kegiatan belajar mengajar
  • Undangan pertemuan
  • Info kegiatan ekstra / pentas seni, dll
  • Info kegiatan ForSAIMS
  • Konfirmasi pembayaran biaya pendidikan
  • Informasi program kegiatan
  • Dan masih banyak informasi lain yang disebarkan via SMS Center

 

Selain “MENGIRIM” SMS, SMS Center bisa pula menerima SMS dari ortu, tentang:

  • Usul/saran/kritik
  • Pertanyaan seputar SAIMS dan ForSAIMS
  • Perkembangan pendidikan ananda
  • Dan Info lain yg berkaitan dengan ananda.

 

NO SMS CENTER

0838.3077.4499

 

KENAPA SAYA PILIH SAIMS?

Sekolah Alternatif yang Membebaskan (Meredam Ego Orangtua)

 

oleh: Dewi, Mama Bimo

Masih tajam dalam ingatan saya sekitar 20 tahun yang lalu, ketika pertama kali duduk di bangku sekolah dasar orang tua memasukkan saya dalam lingkungan sekolah yang terbaik menurut versi mereka, saat itu saya merasa baik-baik saja tanpa merasakan adanya tekanan dalam diri saya.

Pikiran saya adalah saya bersekolah untuk belajar dan tidak terbesit sama sekali dalam benak saya bahwa dunia sekolah adalah dunia yang menyenangkan, bermain, dan berteman. Pokoknya pada intinya sekolah adalah tempat untuk belajar dan jadi pintar.

Jangankan untuk mengembangkan potensi diri, ikut kegiatan yang bersifat ekstra saja tidak pernah. Pernah suatu saat saya mengikuti kegiatan untuk mengasah sisi spiritual saya tapi langsung saja dilarang oleh mereka ketika nilai rapor saya mulai ada merahnya. Waktu itu karena rata-rata orang tua jaman saya tidak mengenal istilah demokrasi jadinya ya begitu mereka cenderung memaksakan kehendaknya (atau mungkin hal ini  pernah dialami hampir semua anak-anak yang tumbuh pada jaman saya ketika itu) disamping itu sekolah-sekolah yang terbaik memiliki jumlah dan kapasitas yang terbatas sehingga mereka begitu ketat mendoktrin saya.

Kadangkala proses pendidikan dalam keluarga terjadi  dari suatu rentetan  seperti mata rantai yang panjang, dimana mungkin orang tua kita menerapkan proses pendidikan yang sama kepada kita,  seperti apa yang telah diajarkan oleh orang tua mereka ketika mereka sebaya saya, sehingga kalau kita telusuri proses tersebut bagai, rantai yang tidak ada putus-putusnya.

Akibat dari keterkekangan dalam menentukan apa yang saya mau ketika itu hampir saja menenggelamkan jati diri saya, untung saja saya tidak pernah terjebak dalam cermin dunia semu.   Saya memiliki pertahanan yang agak unik dibanding anak-anak yang lain,  begitu ditekan saya meluapkan emosi saya dengan membaca dan belajar.

Tapi tidak semua orang memiliki kemampuan dan ketahanan emosi seperti ini karena banyak juga teman-teman saya yang ditekan untuk jadi prefeksionis malah akhirnya terjebak dalam dunia semu bahkan ada yang sampai mengorbankan masa depan atau yang tragis adalah bunuh diri.   Seperti berita yang saya dengar beberapa minggu dan bulan lupa hari dan tanggalnya, saya mendengar banyak anak-anak kecil sebaya anak saya dan remaja yang frustasi memutuskan mengakhiri hidupnya dengan cara-cara yang tragis. (Naudzubilah himindzalik).

Syukur Alhamdulillah hal tragis tidak sempat saya alami. Namun bukan berarti ketertekanan pada saat itu tidak memiliki efek negatif pada diri saya, karena selama beberapa waktu saya sempat memandang segala sesuatu dengan pesimis, kurang percaya diri, dan merasa lemah dalam proses pengambilan keputusan terhadap suatu hal.

Untungnya semangat saya untuk selalu belajar dari pengalaman dan kesalahan masa lalu membawa kepercayaan diri saya kembali dan membuat saya bisa mengembangkan diri berlahan-lahan.

Jika kita meruntut pola didik yang di alami oleh masa kanak-kanak, tidak pantaslah kita mencari kambing hitam, seperti siapa yang patut disalahkan ?. ‘ That’s It’  itu adalah bagian dari masa lalu, untuk menjadi maju kita harus melupakan masa lalu, dan berusaha menghadapi masa depan dengan lapang dada dan terbuka, dan ketika kita menyadari kesalahan masa lalu kita, seharusnya segeralah kita mengambil sikap dan berusaha sedapat mungkin untuk memperbaikinya, itu saran saya.

Ketika itu saya mengambil momentum-momentum berharga untuk memperbaiki diri saya lewat mama saya, beliaulah orang pertama yang menyadari adanya kesalahan dalam menerapkan fungsi mereka sebagai orang tua, beliaulah juga yang menggerakkan dan menyangga saya dengan rasa percaya diri yang tinggi serta semangat juang pantang menyerah. Sifat ini mudah-mudahan bisa saya tularkan pada anak-anak saya kelak, Insyaallah.

Walaupun saya terlambat mengetahui potensi dalam diri saya, saya tetap bersyukur bisa hidup dan diberikan limpahan kemudahan serta barokah oleh Allah SWT sehingga dapat seperti sekarang lewat ladang ikhlas yang diajarkan oleh Mama saya dan kesempatan yang diberikan dengan lapang oleh Ayah saya pada akhirnya.

Kini saya bekerja dibidang yang jauh melenceng dari pakem pendidikan saya, tapi Alhamdullilah saya menikmati pekerjaan saya hingga detik ini.   Namun akan ironis  jika Saya tidak tahu bagaimana jika saya terlambat menemukan jati diri ketika itu, tentu semua tidak akan semudah ini, Wallahualam bisawab.

Beberapa tahun yang lalu sebelum saya memasukkan anak sulung saya di SD saya sempat membaca beberapa referensi salah satunya  sebuah buku dengan judul menarik didalamnya “ BIARKAN ANAK MEMILIH YANG MEREKA MAU” judul tersebut adalah ulasan singkat dari sebuah buku berbahasa Inggris berjudul “ SUMMERHILL SCHOOL  Sekolah alternatif yang membebaskan”.

Saya tetarik untuk menyimaknya kemudian.   Ada kata-kata yang membuat saya tertegun sejenak dan sekarang akan saya bagi bersama teman-teman di group saims, tulisan inilah yang kemudian membuat saya memutuskan memasukkan ‘BIMO’ di SD SAIMS Surabaya.

Pendidikan adalah long life education (berlakunya sepanjang hayat) tidak mengenal batas waktu dan usia.   Semboyan ini adalah panduan bagi siapa saja yang ingin menjadikan dirinya tumbuh lebih baik dalam tataran pemikiran, sikap dan perilaku.

Sekarang ini Alhamdullilah banyak menjamur pendidikan-pendidikan tingkat dasar sampai atas yang bersifat alternatif, walaupun masih dalam taraf merangkak karena hanya pendidikan dasar saja yang berwawasan ke-alternatif sedangkan pendidikan menengah ke atasnya masih dibawah pakem kurikulum.    Haruskah kita dipenjarakan oleh kurikulum terus yang akhirnya membelenggu potensi sejati setiap anak…? Yang didalamnya adalah jiwa-jiwa calon Menteri, Presiden, Penyair, Penulis, mubaligh, dan juga seorang pelukis yang memahami eksistensi dirinya secara ‘professional, Why not?’.

Kenapa harus takut menjadikan mereka seperti yang mereka (anak) inginkan dengan hasil maksimal dari pada menjadikan mereka seperti yang kita inginkan (orangtua inginkan) tapi hasilnya setengah-setengah bahkan nol besar?.   SUMMERHILL SCHOOL berdiri berawal dari ide yang sangat sederhana, bagaimana membuat sekolah yang cocok untuk anak-anak, bukannya anak-anak yang harus mencocokan dengan sekolah. Dalam Summerhill school yang didirikan oleh Alexander Sutherland Neill, anak-anak dibebaskan untuk menentukan apa yang mereka mau. Mereka membuang jauh-jauh ketertiban, arahan, anjuran, dan hukuman. Kini sekolah yang memberikan kebebasan penuh kepada anak-anak tersebut menjadi sekolah percontohan  diberbagai negara.

Dalam sekolah alternatif seperti ini yang dibutuhkan adalah keyakinan penuh bahwa setiap anak memiliki sisi yang unik yang harus digali agar berkembang maksimal. Pada sekolah ini anak-anak bebas memilih pelajaran yang mereka ikuti. Bahkan anak-anak yang baru masuk bisa bebas bermain sepanjang waktu, berhari-hari, bahkan bertahun-tahun. Sekolah seperti ini menurut saya adalah sekolah yang paling manusiawi, yang mengangap anak sebagai individu yang patut dihargai bukan robot yang bisa diperintah sesuai kemauan kita. Andaikata sekolah ini berdiri dengan metode sejenis tapi berbasis Islam pasti sangat indah sekali. Dimana anak tetap dibebaskan dengan memasukkan unsur pendidikan islam berlahan-lahan, misal anak pada awal masuk tidak diwajibkan dan dipaksakan untuk mengenakan jilbab, dan sholat tapi setelah sekian lama mereka diberikan kebebasan waktu untuk berfikir, dikenalkan dengan ayat-ayat dan ditumbuhkan kecintaannya pada Islam Insyaallah tanpa disuruhpun mereka akan memakai jilbab dan melaksanakan ibadah sholat tanpa dipaksa, karena ilmu itu sudah melekat dalam hati dan sanubari bukan hanya otak mereka sehingga memberikan stimulus kedalam otak bawah sadar mereka jika mereka tidak melaksanakannya maka akan kurang nyaman.

Berbeda apabila ini dipaksakan jadinya mereka akan semakin memberontak walaupun pemberontakan ini tidak dirasakan sekarang tapi mungkin baru akan terjadi, 1 tahun, 3 tahun atau bahkan berpuluh-puluh tahun lagi bahkan ketika mereka sudah berkeluarga.   Karena setiap anak membutuhkan waktu untuk mengenali dirinya sendiri (Neill menyebutnya dengan rasa sakit) setelah begitu tertekan pada sekolah normal. Panjang pendek waktu penyembuhan ini tergantung dari seberapa besar kebencian yang diterapkan dalam sekolah normal kedalam diri mereka. Semakin dini mereka dimasukkan kedalam sekolah alternatif seperti summerhill school, maka akan semakin cepat proses penyembuhannya dan proses penyesuaian dirinya dengan sekolah tersebut.

Tapi makin bertambahnya umur anak, makin lama pula waktu penyembuhannya. Bisa jadi anak tidak mau lagi mengikuti pelajaran yang selama ini mereka dapatkan disekolah lamanya. Disekolah seperti ini tidaklah penting seberapa besar IQ seseorang tapi yang lebih dipentingkan adalah EQ seseorang, karena EQ mengendalikan pikiran dan mental, semakin tinggi IQ seseorang belum tentu diimbangi dengan kematangan EQ akan tetapi dengan kematangan EQ kemungkinan besar seorang anak memiliki IQ yang tinggi dengan jalan tekun dan sabar dalam proses pembelajaran.

Gambar adalah media untuk menuangkan Emosi dan penggambaran kareakter yang paling manjur untuk melihat efek-efek negatif  dari emosi seseorang. Goresan pensil dapat melihat garis-garis kesenjangan pribadi seseorang. (itu menurut pakar psikologi loh). Anak-anak yang bersekolah di sekolah alternatif seperti ini akan memiliki tingkat kreativitas dan ketahanan mental yang lebih tinggi dibandingkan anak-anak disekolah normal yang selalu dijejali dengan keseriusan bahkan doktrin-doktrin milik seseorang atau beberapa kepentingan.

Neil berpendapat bahwa setiap anak tumbuh dengan egonya masing-masing , tapi ego yang dipelihara dengan baik akan memiliki sisi-sisi kebaikan. Sedangakan ego yang dikekang akan menghasilkan kejahatan. Anak yang dianggap jahat sejatinya adalah anak yang sedang berusaha mencari kebahagiaan.

Rumah dan sekolah seringkali jadi sumber ketidakbahagiaan dan sikap anti sosial. Kebahagian yang tidak meraka rasakan ketika masih kanak-kanak hanya akan membuka celah bagi kebahagian palsu yang didapat dari kegiatan merusak, mencuri, dan menghajar orang, serta berbohong. Kekerasan dan hukuman tidak akan mengatasai kejahatan dan kenakalan anak. Ketika seorang muridnya mencuri, kata Neill yang dicuri adalah kebahagian.  Sebetulnya dia hanya ingin mendapat perhatian dan kebahagiaan.   Dan resep ini sangat manjur Anak-anak yang bermasalah, menurut Neill adalah anak yang tidak bahagia. Dia berperang dengan dirinya sendiri, konsekuensinya dia berperang dengan seluruh dunia.   Kebebasan juga menghilangkan rasa takut pada anak-anak, sehingga bisa mengubah anak penakut menjadi anak yang pemberani.

Hukuman yang terbaik adalah hukuman yang disepakati dan dibuat oleh anak-anak sendiri, dengan demikian sekolah ini dikelola bersama oleh guru dan siswanya. Seperti misalnya mencuri, mereka sadar bahwa mencuri itu merugikan. Seminggu sekali meraka mengadakan rapat bersama untuk membahas semua kejadian dalam keseharian mereka. Hukuman, ketidaksetujuan, dan ide dibahas secara demokratis melalui presentasi-presentasi oleh mereka sendiri. Guru tidak campur tangan semua diselesaikan olah anak-anak sendiri.

Hasilnya sekolah ini sudah banyak menelurkan alumni yang sukses secara psikologis, ekonomis, akademis, sosiokultural, politis, meraka menjadi insiyur, dokter, pengusaha, pemusik, dan segala macam profesi yang berpikiran maju dan terbuka, jujur, tekun, optimis, dan bahagia. Sekali lagi Bahagia.

Bukankah kita menginginkan anak kita menjadi anak yang berbahagia, lahir dan batin, sesuai dengan keinginan mereka bukan kita. (anakmu adalah untukmu tapi bukan milikmu dia adalah milik Ruang, Waktu, dan Masa-Nya).   Kitalah para orang tua yang membentuk karakter anak dengan tangan kita, jangan sampai kita membuat mereka tidak bahagia dalam hidupnya.

Saya juga dalam taraf belajar, untuk tidak memaksakan ego saya pada mereka, karena secara tidak sadar, dalam alam bawah sadar, saya selalu mengingat pola pendidikan yang diberikan olah orang tua saya dulu, saya merasa cukup berhasil sebagai manusia dengan pola pendidikan tersebut, sehingga ego saya kadang mendesak saya untuk membuat anak-amak saya menjadi seperti saya atau anak-anak sukses lainnya.

Pesan saya jangan menjadikan ini seperti mata rantai yang terus-menerus, harus ada yang mengguntingnya dan menyambungnya dengan mata rantai yang lebih baik lagi, supaya kita selalu mendapatkan senyum paling manis dan tulus dari wajah mereka. AMIEN.

Sumber Inspirasi: Koran Tempo, Ruang Baca

Mendesak, Pendidikan Karakter

(Berikut ini tulisan sahabat saya, seorang guru sekolah menengah di Lamongan. Semoga bermanfaat untuk menambah wawasan kita semua).

Belakangan ini kita dibuat menangis dengan hampir runtuhnya karakter bangsa Indonesia. Mulai dari kasus korupsi yang sulit diberantas, kurang pekanya generasi muda terhadap lingkungan sekitar, sampai masalah kedisiplinan yang semakin payah. Sebagai seorang pendidik, tentu penulis tak akan berpangku tangan saja menghadapi kenyataan ini. Perlu kiranya kita menyatukan langkah untuk menanamkan kembali nilai-nilai dasar pendidikan karakter bangsa.

Ada 16 nilai-nilai Dasar Pendidikan Karakter bangsa yang dapat ditumbuhkan dan dikembangkan di sekolah-sekolah kita. Ke-16 nilai dasar itu dapat diintegrasikan dalam berbagai kegiatan akademik dan kesiswaan. Dari sanalah kita dapat melakukan pembinaan peserta didik. Nilai-nilai dasar pendidikan karakter yang harus diajarkan adalah:

•1. Bertakwa (religious)
Para guru harus mampu mengarahkan anak didiknya menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mampu melaksanakan perintah-Nya, dan mampu pula menjauhkan segala larangan-Nya. Orang yang bertakwa akan sadar-sesadarnya bahwa dirinya hanya hamba Tuhan yang harus bertanggungjawab dengan apa yang telah dilakukannya di dunia. Kegiatan seperti tadarus dan sholat berjamaah adalah merupakan contoh dari kegiatan meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik.

•2. Bertanggung jawab (responsible)
Para guru harus mampu mengajak para peserta didiknya untuk menjadi manusia yang bertanggungjawab. Mampu mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukannya dan berani menanggung segala resiko dari apa yang telah diperbuatnya. Rasa tanggung jawab ini harus ada dalam diri para peserta didik kita. Kegiatan seperti pentas seni adalah merupakan salah satu bentuk dimana siswa atau peserta didik diberi tanggung jawab dalam mengelola sebuah kegiatan seni.

•3. Berdisiplin (dicipline)
Para guru harus mampu menamkan disiplin yang tinggi kepada para peserta
didiknya. Kedisiplinan harus dimulai pada saat masuk sekolah. Budaya tepat waktu harus ditegakkan. Siapa yang terlambat datang ke sekolah harus terkena sanksi atau hukuman sesuai dengan peraturan tata tertib yang berlakuk di sekolah. Siswa harus diajarkan disiplin, dengan demikian dia kan terbiasa disiplin dalam kehidupannya. Contoh yang paling mudaha adalah tepat waktu. Siswa harus dididik untuk mampu tepat waktu.

•4. Jujur (honest)
Kejujuran saat ini merupakan hal yang langka. Para guru harus mampu memberikan contoh kepada para peserta didiknya untuk mampu berlaku jujur. Ketika jujur diajarkan di sekolah-sekolah kita, maka para peserta didik tak akan berani berbohong karena telah terbiasa jujur. Kebiasaan jujur ini jelas harus menjadi fokus utama dalam pendidikan di sekolah. Sebab kejujuran telah menjadi barang langka di negeri ini. Timbulnya korupsi, kolusi, dan nepotisme adalah akibat dari karakter jujur yang kurang terpelihara dengan baik.

•5. Sopan (polite)
Mampu berperilaku sopan adalah dambaan setiap insan. Dengan berlaku sopan orang lain akan segan kepada kita. Karakter sopan ini harus dilatihkan kepada peserta didik, dan dicontohkan bagaimana cara berlaku sopan kepada orang lain. Terutama kepada mereka yang telah lebih tua daripadanya. Tentu karakter kesopanan harus diperlihatkan dan dijunjung tinggi. Seringkali kita melihat karkater anak sekolahan yang kurang sopan. Baik dalam berbicara mamupun bertindak. Hal inilah yang harus kita rubah dalam pendidikan karakter bangsa.

•6. Peduli (care)
Peserta didik harus dilatih untuk peduli kepada sesama. Belajar melakukan empati kepada orang lain dengan rasa kepedulian yang tinggi. Ketika kita mau peduli, maka saudara-saudara kita yang sedang mengalami kesulitan akan terbantu. Disitulah akhirnya jiwa kepedulian kita teruji. Banyaknya musibah yang silih berganti di negeri ini, baik musibah bencana alam maupun bencana lainnya harus membuat kita semakin peduli dengan bangsa sendiri.

•7. Kerja keras (Hard work)
Peserta didik harus dilatih untuk mampu bekerja keras. Bukan hanya mampu bekerja keras, tetapi juga mampu bekerja cerdas, ikhlas, dan tuntas. Dengan begitu kerja keras yang dilakukannya akan bernilai ibadah di mata Tuhan pemilik langit dan bumi. Orang yang senang bekerja keras pastilah akan menuai kesuksesan dari apa yang telah dikerjakannya. Orang yang bekerja keras pasti mampu mewujudkan impiannya menjadi kenyataan.

•8. Sikap yang baik (good attitude)
Peserta didik harus memiliki sikap yang baik. Dengan sikap yang baik akan
terlihat karakter dari peserta didik tersebut. Sikap yang baik kepada orang lain harus dicontohkan oleh guru kepada para peserta didiknya. Dengan begitu orang lain akan menaruh hormat kepadanya karena sikapnya yang baik. Perilaku orang dapat dilihat dari sikap baik yang dimunculkannya. Oleh karenanya sikap yang baik harus diajarkan para guru dalam pendidikan karakter di sekolah.

•9. Toleransi (tolerate)
Peserta didik harus dilatih agar mampu bertoleransi dengan baik kepada orang lain. Toleransi harus dipupuk sejak dini, apalagi kepada hal-hal yang bernuansa Suku, agama, Ras, dan antar golongan (SARA). Perlu tolerasi yang tinggi agar mampu memahami kalau kita berbeda tetapi hakekatnya tetap satu juga. Toleransi antar umat beragama adalah salah satu bentuk toleransi yang paling jelas terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

•10. Kreatif (Creative)
Peserta didik harus diajarkan agar mampu kreatif. Dengan begitu dia telah
terbiasa menciptakan sesuatu yang baru. Guru kreatif akan menghasilkan peserta didik yang kreatif pula. Ajarkan peserta didik kita agar mampu kreatif dalam menjalankan aktivitas kesehariannya. Anak kreatif tidak lahir begitu saja. Dia lahir dari proses pendidikan yang berkelanjutan.

•11. Mandiri (independent)
Anak yang terbiasa mandiri biasanya akan jauh lebih berhasil hidupnya daripada anak yang kurang mandiri. Mandiri bukan hanya mampu berdiri di atas kakinya sendiri, tetapi juga mampu membawa dirinya untuk tidak bergantung penuh kepada
orang lain. Kemandirian harus ditanamkan kepada para peserta didik kita bila
ingin anak menjadi mandiri.

•12. Rasa Ingin Tahu (curiosty)
Setiap anak pasti memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Tentu sebagai guru kita dituntut untuk mampu mengarahkan rasa ingin tahu mereka kearah hal-hal yang positif seperti rasa ingin tahu mereka tentang bumi dan antariksa yang ilmunya terus berkembang seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu pengatahuan dan teknologi. Bila peserta didik memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, maka itu adalah modal dasar untuk menjadi seorang ilmuwan muda dan kaya. Rasa ingin tahu ini harus terus dimotivasi agar para peserta didik kita mampu juga meneliti di usia remaja.

•13. Semangat Kebangsaan (Nationality Spirit)
Para peserta didik harus didorong memiliki semangat kebangsaan. Dengan begitu akan ada rasa bangga kepada bangsanya sendiri. Contoh yang paling mudah dari semangat kebangsaan adalah sepakbola. Dengan permainan sepakbola, para pemain dan penonton dituntut harus memiliki semangat kebangsaan yang tinggi. Apalagi bila kita bermain di negeri orang lain.

•14. Menghargai (Respect)
Peserta didik harus mampu menghargai hasil karya orang lain yang dilihatnya. Dengan begitu ada penghargaan yang diberikan olehnya kepada orang lain. Saling menghargai merupakan cerminan budaya bangsa yang harus dilestarikan secara turuh temurun. Menghargai pendapat orang lain adalah salah satu contoh dari karakter saling menghargai sesama.

•15. Bersahabat (Friendly)
Ketika peserta didik sudah terbiasa bersahabat, maka akan terasalah pentingnya sebuah persahabatan. Bersahabat adalah karakter penting yang harus dimiliki oleh para peserta didik. Kita harus memupuk rasa persaudaraan yang tinggi. Bila kita saling bersahabat, maka kita akan semakin dekat dan akrab. Dengan begitu akan semakin dekatlah hati kita masing-masing. Persahabatan bagai kepompong yang akan mengubah ulat menjadi kupu-kupu. Sungguh indahnya sebuah persahabatan.

•16. Cinta damai (Peace Ful)
Peserta didik harus cintai damai. Cinta mencintai antar sesama anak manusia. Kita semua bersaudara dan tidak selayaknya kita saling bertengkar. Kita cinta damai, tepai kita pun cinta kemerdekaan. Siapa saja bangsa yang mengusik kemerdekaan kita, maka kita akan melawannya dengan gagah perkasa karena kita lebih mencintai bangsa sendiri.

Demikianlah nilai-nilai dasar pendidikan karakter bangsa yang dapat diterapkan di sekolah-sekolah kita. Semoga kita semua dapat menyiapkan para generasi penerus bangsa menjadi calon pemimpin masa depan yang memiliki karakter yang penulis jabarkan di atas serta mempunyai kemampuan intektual yang tinggi. Kita pun berharap akan muncul pemimpin masa depan yang berkarakter, berintegrasi yang tinggi dan cerdas dalam melihat perkembangan sejarah bangsa.

Konsep RSBI Dinilai Lemah

Rencana Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) mengevaluasi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) bersama DPR dinilai langkah yang mubazir. Konsep RSBI dinilai lemah dan tak memiliki rujukan akademis.

“Evaluasi itu tidak ada gunanya. Konsep RSBI saja sudah salah, lalu apanya yang akan dievaluasi,” tegas Ketua Harian Pelaksana Ikatan Keluarga Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Dr.Soeryanto melalui siaran pers, Senin (21/3/2011).

Menurutnya, perguruan tinggi pencetak guru di Indonesia justru lebih mampu Unesa insyaAllah mampu membuat konsep sekolah yang lebih baik daripada RSBI,” tandas Dr. Soeryanto, yang juga dosen di Unesa.

Sebagai perguruan terbesar di Indonesia Timur, Unesa memiliki sumber daya terbaik dalam bidang pendidikan. Selain itu, UNESA juga memiliki hampir semua fasilitas penunjang yang memungkinkan terciptanya sebuah konsep sekolah bermutu melebihi RSBI yang dianggap tidak karuan juntrungnya itu.

“Kami belum diberi kesempatan saja. Jika dana ratusan milyar bahkan trilyunan dari APBN dan APBD yang dikucurkan untuk RSBI yang tak jelas itu disisihkan sebagian
saja untuk membuat konsep sekolah model dengan kualitas mendunia, tentu kami bisa,” katanya.

Menanggapi keinginan DPRD Surabaya yang ngotot akan mendirikan 12 RSBI lagi, Soeryanto menilai keinginan tersebut sebagai akibat ketidakpahaman terhadap konsep RSBI yang amburadul yang disusun tanpa riset akademis.

“Mereka tak paham. Kalau paham, mungkin mereka akan membubarkan RSBI,” tegasnya.

Selain mahal, sekolah rintisan mestinya hanya menjadi contoh atau prototype saja. “Janjinya sebagai sekolah rintisan, mestinya jadi prototype (contoh) dulu
kemudian dievaluasi,” kata Soeryanto saat dikonfirmasi detiksurabaya.com.

Menurutnya banyak konsep RSBI yang tidak jelas. Diantaranya adalah penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Semestinya penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar yang menjadi acuan kesehariannya.

“Kalau memang ingin meningkatkan kualitas proses belajar dan mengajar, kenapa mesti dipaksakan menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Lagipula, harga sekolah di RSBI harusnya terjangkau untuk rakyat,” katanya menyesalkan.

Begitupula konsep berbasis Information Technology (IT) di RSBI juga disoroti. Konsep itu otomatis akan mengurangi peran guru. Semua materi pendidikan di-upload dari web Kemendiknas. Padahal, menurut Soeryanto, training singkat yang ditujukan kepada para pengajar dirasa belum cukup mumpuni, apalagi untuk mendampingi anak-anak didiknya.

“Kalau RSBI mau ditambah dan diberlakukan secara nasional, saya kira perlu dibicarakan dan dievaluasi lagi,” pungkasnya.

(sumber: detik.com)

Doa Seorang Anak Kecil

oleh: Ustadz Rozi, SAIMS

 

 

Ada suatu cerita. Suatu ketika ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab memang begitulah peraturannya.

 

Ada seorang anak bernama Mark. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Mark-lah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya. Yah, memang, mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip di atasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Mark bangga dengan itu semua, sebab, mobil itu buatan tangannya sendiri.

 

Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 pembalap” kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah di antaranya. Namun, sesaat kemudian, Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa.

 

Matanya terpejam, dengan tangan bertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata, “Ya, aku siap!” Dor!!! Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil tu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing. “Ayo..ayo… cepat..cepat, maju..maju”, begitu teriak mereka. Ahha… sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlambai. Dan… Mark-lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Mark. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati. “Terima kasih.”

 

Saat pembagian piala tiba. Mark maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya. “Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan agar kamu menang, bukan?” Mark terdiam. “Bukan, Pak, bukan itu yang aku panjatkan,” kata Mark. Ia lalu melanjutkan, “Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Tuhan untuk menolongku mengalahkan orang lain, aku, hanya bermohon pada Tuhan, supaya aku tak menangis, jika aku kalah.” Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi ruangan.

 

Teman, anak-anak, tampaknya lebih punya kebijaksanaan dibanding kita semua. Mark, tidaklah memohon pada Tuhan untuk menang dalam setiap ujian. Mark, tak memohon Tuhan untuk meluluskan dan mengatur setiap hasil yang ingin diraihnya. Anak itu juga tak meminta Tuhan mengabulkan semua harapannya. Ia tak berdoa untuk menang, dan menyakiti yang lainnya.

 

Namun, Mark, memohon pada Tuhan, agar diberikan kekuatan saat menghadapi itu semua. Ia berdoa, agar diberikan kemuliaan, dan mau menyadari kekurangan dengan rasa bangga. Mungkin, telah banyak waktu yang kita lakukan untuk berdoa pada Tuhan untuk mengabulkan setiap permintaan kita. Terlalu sering juga kita meminta Tuhan untuk menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap ujian. Terlalu sering kita berdoa pada Tuhan, untuk menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada di depan mata.

 

Padahal, bukankah yang kita butuh adalah bimbingan-Nya, tuntunan-Nya, dan panduan-Nya? Kita, sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat. Kita sering lupa, dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini. Tak adakah semangat perjuangan yang mau kita lalui? Saya yakin, Tuhan memberikan kita ujian yang berat, bukan untuk membuat kita lemah, cengeng dan mudah menyerah. Jadi, teman, berdoalah agar kita selalu tegar dalam setiap ujian. Berdoalah agar kita selalu dalam lindungan-Nya saat menghadapi itu ujian tersebut