Arsip Kategori: Pembelajaran
KENAPA SAYA PILIH SAIMS?
Sekolah Alternatif yang Membebaskan (Meredam Ego Orangtua)
oleh: Dewi, Mama Bimo
Masih tajam dalam ingatan saya sekitar 20 tahun yang lalu, ketika pertama kali duduk di bangku sekolah dasar orang tua memasukkan saya dalam lingkungan sekolah yang terbaik menurut versi mereka, saat itu saya merasa baik-baik saja tanpa merasakan adanya tekanan dalam diri saya.
Pikiran saya adalah saya bersekolah untuk belajar dan tidak terbesit sama sekali dalam benak saya bahwa dunia sekolah adalah dunia yang menyenangkan, bermain, dan berteman. Pokoknya pada intinya sekolah adalah tempat untuk belajar dan jadi pintar.
Jangankan untuk mengembangkan potensi diri, ikut kegiatan yang bersifat ekstra saja tidak pernah. Pernah suatu saat saya mengikuti kegiatan untuk mengasah sisi spiritual saya tapi langsung saja dilarang oleh mereka ketika nilai rapor saya mulai ada merahnya. Waktu itu karena rata-rata orang tua jaman saya tidak mengenal istilah demokrasi jadinya ya begitu mereka cenderung memaksakan kehendaknya (atau mungkin hal ini pernah dialami hampir semua anak-anak yang tumbuh pada jaman saya ketika itu) disamping itu sekolah-sekolah yang terbaik memiliki jumlah dan kapasitas yang terbatas sehingga mereka begitu ketat mendoktrin saya.
Kadangkala proses pendidikan dalam keluarga terjadi dari suatu rentetan seperti mata rantai yang panjang, dimana mungkin orang tua kita menerapkan proses pendidikan yang sama kepada kita, seperti apa yang telah diajarkan oleh orang tua mereka ketika mereka sebaya saya, sehingga kalau kita telusuri proses tersebut bagai, rantai yang tidak ada putus-putusnya.
Akibat dari keterkekangan dalam menentukan apa yang saya mau ketika itu hampir saja menenggelamkan jati diri saya, untung saja saya tidak pernah terjebak dalam cermin dunia semu. Saya memiliki pertahanan yang agak unik dibanding anak-anak yang lain, begitu ditekan saya meluapkan emosi saya dengan membaca dan belajar.
Tapi tidak semua orang memiliki kemampuan dan ketahanan emosi seperti ini karena banyak juga teman-teman saya yang ditekan untuk jadi prefeksionis malah akhirnya terjebak dalam dunia semu bahkan ada yang sampai mengorbankan masa depan atau yang tragis adalah bunuh diri. Seperti berita yang saya dengar beberapa minggu dan bulan lupa hari dan tanggalnya, saya mendengar banyak anak-anak kecil sebaya anak saya dan remaja yang frustasi memutuskan mengakhiri hidupnya dengan cara-cara yang tragis. (Naudzubilah himindzalik).
Syukur Alhamdulillah hal tragis tidak sempat saya alami. Namun bukan berarti ketertekanan pada saat itu tidak memiliki efek negatif pada diri saya, karena selama beberapa waktu saya sempat memandang segala sesuatu dengan pesimis, kurang percaya diri, dan merasa lemah dalam proses pengambilan keputusan terhadap suatu hal.
Untungnya semangat saya untuk selalu belajar dari pengalaman dan kesalahan masa lalu membawa kepercayaan diri saya kembali dan membuat saya bisa mengembangkan diri berlahan-lahan.
Jika kita meruntut pola didik yang di alami oleh masa kanak-kanak, tidak pantaslah kita mencari kambing hitam, seperti siapa yang patut disalahkan ?. ‘ That’s It’ itu adalah bagian dari masa lalu, untuk menjadi maju kita harus melupakan masa lalu, dan berusaha menghadapi masa depan dengan lapang dada dan terbuka, dan ketika kita menyadari kesalahan masa lalu kita, seharusnya segeralah kita mengambil sikap dan berusaha sedapat mungkin untuk memperbaikinya, itu saran saya.
Ketika itu saya mengambil momentum-momentum berharga untuk memperbaiki diri saya lewat mama saya, beliaulah orang pertama yang menyadari adanya kesalahan dalam menerapkan fungsi mereka sebagai orang tua, beliaulah juga yang menggerakkan dan menyangga saya dengan rasa percaya diri yang tinggi serta semangat juang pantang menyerah. Sifat ini mudah-mudahan bisa saya tularkan pada anak-anak saya kelak, Insyaallah.
Walaupun saya terlambat mengetahui potensi dalam diri saya, saya tetap bersyukur bisa hidup dan diberikan limpahan kemudahan serta barokah oleh Allah SWT sehingga dapat seperti sekarang lewat ladang ikhlas yang diajarkan oleh Mama saya dan kesempatan yang diberikan dengan lapang oleh Ayah saya pada akhirnya.
Kini saya bekerja dibidang yang jauh melenceng dari pakem pendidikan saya, tapi Alhamdullilah saya menikmati pekerjaan saya hingga detik ini. Namun akan ironis jika Saya tidak tahu bagaimana jika saya terlambat menemukan jati diri ketika itu, tentu semua tidak akan semudah ini, Wallahualam bisawab.
Beberapa tahun yang lalu sebelum saya memasukkan anak sulung saya di SD saya sempat membaca beberapa referensi salah satunya sebuah buku dengan judul menarik didalamnya “ BIARKAN ANAK MEMILIH YANG MEREKA MAU” judul tersebut adalah ulasan singkat dari sebuah buku berbahasa Inggris berjudul “ SUMMERHILL SCHOOL Sekolah alternatif yang membebaskan”.
Saya tetarik untuk menyimaknya kemudian. Ada kata-kata yang membuat saya tertegun sejenak dan sekarang akan saya bagi bersama teman-teman di group saims, tulisan inilah yang kemudian membuat saya memutuskan memasukkan ‘BIMO’ di SD SAIMS Surabaya.
Pendidikan adalah long life education (berlakunya sepanjang hayat) tidak mengenal batas waktu dan usia. Semboyan ini adalah panduan bagi siapa saja yang ingin menjadikan dirinya tumbuh lebih baik dalam tataran pemikiran, sikap dan perilaku.
Sekarang ini Alhamdullilah banyak menjamur pendidikan-pendidikan tingkat dasar sampai atas yang bersifat alternatif, walaupun masih dalam taraf merangkak karena hanya pendidikan dasar saja yang berwawasan ke-alternatif sedangkan pendidikan menengah ke atasnya masih dibawah pakem kurikulum. Haruskah kita dipenjarakan oleh kurikulum terus yang akhirnya membelenggu potensi sejati setiap anak…? Yang didalamnya adalah jiwa-jiwa calon Menteri, Presiden, Penyair, Penulis, mubaligh, dan juga seorang pelukis yang memahami eksistensi dirinya secara ‘professional, Why not?’.
Kenapa harus takut menjadikan mereka seperti yang mereka (anak) inginkan dengan hasil maksimal dari pada menjadikan mereka seperti yang kita inginkan (orangtua inginkan) tapi hasilnya setengah-setengah bahkan nol besar?. SUMMERHILL SCHOOL berdiri berawal dari ide yang sangat sederhana, bagaimana membuat sekolah yang cocok untuk anak-anak, bukannya anak-anak yang harus mencocokan dengan sekolah. Dalam Summerhill school yang didirikan oleh Alexander Sutherland Neill, anak-anak dibebaskan untuk menentukan apa yang mereka mau. Mereka membuang jauh-jauh ketertiban, arahan, anjuran, dan hukuman. Kini sekolah yang memberikan kebebasan penuh kepada anak-anak tersebut menjadi sekolah percontohan diberbagai negara.
Dalam sekolah alternatif seperti ini yang dibutuhkan adalah keyakinan penuh bahwa setiap anak memiliki sisi yang unik yang harus digali agar berkembang maksimal. Pada sekolah ini anak-anak bebas memilih pelajaran yang mereka ikuti. Bahkan anak-anak yang baru masuk bisa bebas bermain sepanjang waktu, berhari-hari, bahkan bertahun-tahun. Sekolah seperti ini menurut saya adalah sekolah yang paling manusiawi, yang mengangap anak sebagai individu yang patut dihargai bukan robot yang bisa diperintah sesuai kemauan kita. Andaikata sekolah ini berdiri dengan metode sejenis tapi berbasis Islam pasti sangat indah sekali. Dimana anak tetap dibebaskan dengan memasukkan unsur pendidikan islam berlahan-lahan, misal anak pada awal masuk tidak diwajibkan dan dipaksakan untuk mengenakan jilbab, dan sholat tapi setelah sekian lama mereka diberikan kebebasan waktu untuk berfikir, dikenalkan dengan ayat-ayat dan ditumbuhkan kecintaannya pada Islam Insyaallah tanpa disuruhpun mereka akan memakai jilbab dan melaksanakan ibadah sholat tanpa dipaksa, karena ilmu itu sudah melekat dalam hati dan sanubari bukan hanya otak mereka sehingga memberikan stimulus kedalam otak bawah sadar mereka jika mereka tidak melaksanakannya maka akan kurang nyaman.
Berbeda apabila ini dipaksakan jadinya mereka akan semakin memberontak walaupun pemberontakan ini tidak dirasakan sekarang tapi mungkin baru akan terjadi, 1 tahun, 3 tahun atau bahkan berpuluh-puluh tahun lagi bahkan ketika mereka sudah berkeluarga. Karena setiap anak membutuhkan waktu untuk mengenali dirinya sendiri (Neill menyebutnya dengan rasa sakit) setelah begitu tertekan pada sekolah normal. Panjang pendek waktu penyembuhan ini tergantung dari seberapa besar kebencian yang diterapkan dalam sekolah normal kedalam diri mereka. Semakin dini mereka dimasukkan kedalam sekolah alternatif seperti summerhill school, maka akan semakin cepat proses penyembuhannya dan proses penyesuaian dirinya dengan sekolah tersebut.
Tapi makin bertambahnya umur anak, makin lama pula waktu penyembuhannya. Bisa jadi anak tidak mau lagi mengikuti pelajaran yang selama ini mereka dapatkan disekolah lamanya. Disekolah seperti ini tidaklah penting seberapa besar IQ seseorang tapi yang lebih dipentingkan adalah EQ seseorang, karena EQ mengendalikan pikiran dan mental, semakin tinggi IQ seseorang belum tentu diimbangi dengan kematangan EQ akan tetapi dengan kematangan EQ kemungkinan besar seorang anak memiliki IQ yang tinggi dengan jalan tekun dan sabar dalam proses pembelajaran.
Gambar adalah media untuk menuangkan Emosi dan penggambaran kareakter yang paling manjur untuk melihat efek-efek negatif dari emosi seseorang. Goresan pensil dapat melihat garis-garis kesenjangan pribadi seseorang. (itu menurut pakar psikologi loh). Anak-anak yang bersekolah di sekolah alternatif seperti ini akan memiliki tingkat kreativitas dan ketahanan mental yang lebih tinggi dibandingkan anak-anak disekolah normal yang selalu dijejali dengan keseriusan bahkan doktrin-doktrin milik seseorang atau beberapa kepentingan.
Neil berpendapat bahwa setiap anak tumbuh dengan egonya masing-masing , tapi ego yang dipelihara dengan baik akan memiliki sisi-sisi kebaikan. Sedangakan ego yang dikekang akan menghasilkan kejahatan. Anak yang dianggap jahat sejatinya adalah anak yang sedang berusaha mencari kebahagiaan.
Rumah dan sekolah seringkali jadi sumber ketidakbahagiaan dan sikap anti sosial. Kebahagian yang tidak meraka rasakan ketika masih kanak-kanak hanya akan membuka celah bagi kebahagian palsu yang didapat dari kegiatan merusak, mencuri, dan menghajar orang, serta berbohong. Kekerasan dan hukuman tidak akan mengatasai kejahatan dan kenakalan anak. Ketika seorang muridnya mencuri, kata Neill yang dicuri adalah kebahagian. Sebetulnya dia hanya ingin mendapat perhatian dan kebahagiaan. Dan resep ini sangat manjur Anak-anak yang bermasalah, menurut Neill adalah anak yang tidak bahagia. Dia berperang dengan dirinya sendiri, konsekuensinya dia berperang dengan seluruh dunia. Kebebasan juga menghilangkan rasa takut pada anak-anak, sehingga bisa mengubah anak penakut menjadi anak yang pemberani.
Hukuman yang terbaik adalah hukuman yang disepakati dan dibuat oleh anak-anak sendiri, dengan demikian sekolah ini dikelola bersama oleh guru dan siswanya. Seperti misalnya mencuri, mereka sadar bahwa mencuri itu merugikan. Seminggu sekali meraka mengadakan rapat bersama untuk membahas semua kejadian dalam keseharian mereka. Hukuman, ketidaksetujuan, dan ide dibahas secara demokratis melalui presentasi-presentasi oleh mereka sendiri. Guru tidak campur tangan semua diselesaikan olah anak-anak sendiri.
Hasilnya sekolah ini sudah banyak menelurkan alumni yang sukses secara psikologis, ekonomis, akademis, sosiokultural, politis, meraka menjadi insiyur, dokter, pengusaha, pemusik, dan segala macam profesi yang berpikiran maju dan terbuka, jujur, tekun, optimis, dan bahagia. Sekali lagi Bahagia.
Bukankah kita menginginkan anak kita menjadi anak yang berbahagia, lahir dan batin, sesuai dengan keinginan mereka bukan kita. (anakmu adalah untukmu tapi bukan milikmu dia adalah milik Ruang, Waktu, dan Masa-Nya). Kitalah para orang tua yang membentuk karakter anak dengan tangan kita, jangan sampai kita membuat mereka tidak bahagia dalam hidupnya.
Saya juga dalam taraf belajar, untuk tidak memaksakan ego saya pada mereka, karena secara tidak sadar, dalam alam bawah sadar, saya selalu mengingat pola pendidikan yang diberikan olah orang tua saya dulu, saya merasa cukup berhasil sebagai manusia dengan pola pendidikan tersebut, sehingga ego saya kadang mendesak saya untuk membuat anak-amak saya menjadi seperti saya atau anak-anak sukses lainnya.
Pesan saya jangan menjadikan ini seperti mata rantai yang terus-menerus, harus ada yang mengguntingnya dan menyambungnya dengan mata rantai yang lebih baik lagi, supaya kita selalu mendapatkan senyum paling manis dan tulus dari wajah mereka. AMIEN.
Sumber Inspirasi: Koran Tempo, Ruang Baca
Konsep RSBI Dinilai Lemah
Rencana Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) mengevaluasi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) bersama DPR dinilai langkah yang mubazir. Konsep RSBI dinilai lemah dan tak memiliki rujukan akademis.
“Evaluasi itu tidak ada gunanya. Konsep RSBI saja sudah salah, lalu apanya yang akan dievaluasi,” tegas Ketua Harian Pelaksana Ikatan Keluarga Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Dr.Soeryanto melalui siaran pers, Senin (21/3/2011).
Menurutnya, perguruan tinggi pencetak guru di Indonesia justru lebih mampu Unesa insyaAllah mampu membuat konsep sekolah yang lebih baik daripada RSBI,” tandas Dr. Soeryanto, yang juga dosen di Unesa.
Sebagai perguruan terbesar di Indonesia Timur, Unesa memiliki sumber daya terbaik dalam bidang pendidikan. Selain itu, UNESA juga memiliki hampir semua fasilitas penunjang yang memungkinkan terciptanya sebuah konsep sekolah bermutu melebihi RSBI yang dianggap tidak karuan juntrungnya itu.
“Kami belum diberi kesempatan saja. Jika dana ratusan milyar bahkan trilyunan dari APBN dan APBD yang dikucurkan untuk RSBI yang tak jelas itu disisihkan sebagian
saja untuk membuat konsep sekolah model dengan kualitas mendunia, tentu kami bisa,” katanya.
Menanggapi keinginan DPRD Surabaya yang ngotot akan mendirikan 12 RSBI lagi, Soeryanto menilai keinginan tersebut sebagai akibat ketidakpahaman terhadap konsep RSBI yang amburadul yang disusun tanpa riset akademis.
“Mereka tak paham. Kalau paham, mungkin mereka akan membubarkan RSBI,” tegasnya.
Selain mahal, sekolah rintisan mestinya hanya menjadi contoh atau prototype saja. “Janjinya sebagai sekolah rintisan, mestinya jadi prototype (contoh) dulu
kemudian dievaluasi,” kata Soeryanto saat dikonfirmasi detiksurabaya.com.
Menurutnya banyak konsep RSBI yang tidak jelas. Diantaranya adalah penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Semestinya penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar yang menjadi acuan kesehariannya.
“Kalau memang ingin meningkatkan kualitas proses belajar dan mengajar, kenapa mesti dipaksakan menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Lagipula, harga sekolah di RSBI harusnya terjangkau untuk rakyat,” katanya menyesalkan.
Begitupula konsep berbasis Information Technology (IT) di RSBI juga disoroti. Konsep itu otomatis akan mengurangi peran guru. Semua materi pendidikan di-upload dari web Kemendiknas. Padahal, menurut Soeryanto, training singkat yang ditujukan kepada para pengajar dirasa belum cukup mumpuni, apalagi untuk mendampingi anak-anak didiknya.
“Kalau RSBI mau ditambah dan diberlakukan secara nasional, saya kira perlu dibicarakan dan dievaluasi lagi,” pungkasnya.
(sumber: detik.com)
Doa Seorang Anak Kecil
oleh: Ustadz Rozi, SAIMS
Ada suatu cerita. Suatu ketika ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab memang begitulah peraturannya.
Ada seorang anak bernama Mark. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Mark-lah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya. Yah, memang, mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip di atasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Mark bangga dengan itu semua, sebab, mobil itu buatan tangannya sendiri.
Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 pembalap” kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah di antaranya. Namun, sesaat kemudian, Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa.
Matanya terpejam, dengan tangan bertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata, “Ya, aku siap!” Dor!!! Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil tu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing. “Ayo..ayo… cepat..cepat, maju..maju”, begitu teriak mereka. Ahha… sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlambai. Dan… Mark-lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Mark. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati. “Terima kasih.”
Saat pembagian piala tiba. Mark maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya. “Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan agar kamu menang, bukan?” Mark terdiam. “Bukan, Pak, bukan itu yang aku panjatkan,” kata Mark. Ia lalu melanjutkan, “Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Tuhan untuk menolongku mengalahkan orang lain, aku, hanya bermohon pada Tuhan, supaya aku tak menangis, jika aku kalah.” Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi ruangan.
Teman, anak-anak, tampaknya lebih punya kebijaksanaan dibanding kita semua. Mark, tidaklah memohon pada Tuhan untuk menang dalam setiap ujian. Mark, tak memohon Tuhan untuk meluluskan dan mengatur setiap hasil yang ingin diraihnya. Anak itu juga tak meminta Tuhan mengabulkan semua harapannya. Ia tak berdoa untuk menang, dan menyakiti yang lainnya.
Namun, Mark, memohon pada Tuhan, agar diberikan kekuatan saat menghadapi itu semua. Ia berdoa, agar diberikan kemuliaan, dan mau menyadari kekurangan dengan rasa bangga. Mungkin, telah banyak waktu yang kita lakukan untuk berdoa pada Tuhan untuk mengabulkan setiap permintaan kita. Terlalu sering juga kita meminta Tuhan untuk menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap ujian. Terlalu sering kita berdoa pada Tuhan, untuk menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada di depan mata.
Padahal, bukankah yang kita butuh adalah bimbingan-Nya, tuntunan-Nya, dan panduan-Nya? Kita, sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat. Kita sering lupa, dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini. Tak adakah semangat perjuangan yang mau kita lalui? Saya yakin, Tuhan memberikan kita ujian yang berat, bukan untuk membuat kita lemah, cengeng dan mudah menyerah. Jadi, teman, berdoalah agar kita selalu tegar dalam setiap ujian. Berdoalah agar kita selalu dalam lindungan-Nya saat menghadapi itu ujian tersebut
Mistisme Tengger – Resensi
Ananda kelas V akan lakukan kegiatan sosial di Tengger. Nah, kiranya kita semua perlu perlu punya informasi lebih banyak tentang berbagai hal yang terkait masyarakat tengger.
Resensi buku berjudul Mistisme Tengger ini semoga bisa membantu kita semua.
————————————————————————————————————————————————–
Judul Buku : Mistisme Tengger
Penulis : Capt. R.P. Suyono
Penerbit : LKiS, Yogyakarta
Cetakan : I (Pertama), Juni 2009
Tebal : x + 369 halaman
Peresensi : Humaidiy AS *)
Mistik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah hal-hal gaib yang tidak terjangkau oleh akal manusia, tetapi ada dan nyata. Para antropolog atau sosiolog mengartikan mistik sebagai subsistem yang ada pada hampir semua sistem religi untuk memenuhi hasrat manusia dalam mengalami dan merasakan “bersatu” dengan Tuhan. Mistik merupakan keyakinan yang hidup dalam alam pikiran kolektif masyarakat. Alam pikiran kolektif akan abadi meskipun masyarakat telah berganti generasi. Demikian pula dengan dunia mistik orang Jawa. Keyakinan ini telah hidup bersamaan dengan masyarakat Jawa. Keyakinan ini telah hidup bersamaan dengan lahirnya masyarakat Jawa, diturunkan dari generasi ke generasi hingga kini.
Sebagaimana judulnya, “Mistisme Tengger”yang disusunoleh Capt. R.P. Suyono ini berusaha merekam kepercayaan orang-orang Tengger dikawasan Gunung Bromo mengenai mikrokosmos dan makrokosmos, hubungannya dengan kekuasaan para dewa dan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia di alam dunia dan swarga. Dari pembahasan asal muasal inilah lahir berbagai kepercayaan dan keyakinan khas Tengger (Jawa) yang disebut ngelmu-ngelmu dan ramalan hidup yang hingga saat ini masih diyakini dan dijalankan oleh mereka.
Buku “Mistisme Tengger” merupakan buku ketiga dari Seri Dunia Mistik Orang Jawa yang disusun oleh Penulis, setelah sebelumnya terbit Dunia Mistik Orang Jawa; Roh, Benda dan Ritual sertaAjaran Rahasia Orang Jawa dengan penerbit yang sama. Sebagaima diakui penulis dalam kata pengantar buku ini, tiga rangkaian penerbitan buku tersebut dilatarbelakangi oleh proses panjang penelaahan naskah-naskah kuno peninggalan Belanda sebelum Perang Dunia II. Salah satunya terhadap De
Javaanxche Geestenwereld, karya seorang javanologi berkebangsaan Belanda bernama Van Hien. Dalam perantauannya sekitar permulaan tahun 1900-an di pedalaman pulau Jawa, Van Hien berhasil mengumpulkan catatan mengenai kebiasaan, mistik dan kebudayaan orang-orang Jawa waktu itu. Hasil catatannya itulah – yang tentu saja berbahasa Belanda–yang masing-masing sekitar 400 halaman, dengan susah payah dialihbahasakan oleh Suyono ke dalam bahasa Indonesia.
Dalam uraiannya, Capt. r.P. Suyono membagi buku ini menjadi empatbelas bab; yakniKisah Penciptaan bumi Menurut Legenda Hindu-Jawa, Para Dewa Orang Hindu, Kegagalan Penciptaan manusia Oleh Brahma, Asal Mula Orang Tengger dan Ilmunya, Pembagian Musim, Manik Maiya, Alasan Oang Tengger Gemar Memakan Bawang, Perhitungan Musim Orang Tengger-Parsi di Jawa, Hari baik dan Buruk secara umum, Pengaruh Bintang pada Sifat Manusia dan Pekerjaan, Pergantian
Nasib Manusia, Ngelmu-Ngelmu, Versi Lain Perayaan Kasada dan Terjadinya Pohon Kapuk Randu. Dari sini, pembaca dapat memahami bahwa ternyata orang Tengger yang bermukim di kaki gunung Bromo sudah sejak lama menguasai banyak “ilmu”.
Studi tentang Kebudayaan Jawa
Studi mengenai kebudayaan Jawa memang menarik banyak kalangan. Di antaranya terdapat sejumlah buku yang dibuat oleh orang Belanda; salah satunya selain Van Hien adalah PJ Zoetmoelder yang
sudah diterjemahkan dengan judul Manunggaling Kawula Gusti, pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa – Suatu Studi Filsafat (Gramedia, 2000) yang mengkaji kebudayaan Jawa dalam perspektif filsafat. Selain itu ada Niels Mulder, juga seorang Belanda yang menggeluti studi Jawa dalam perspektif mistisme. Doktor ilmu-ilmu Sosial dengan disertasi berjudul Kebatinan dan Kehidupan Sehari-hari di Jawa Dewasa Ini juga menerbitkan buku berjudul Mystism in Java Ideology in Indonesia yang memiliki kesamaan sekaligus perbedaan dengan kajian yang dilakukan oleh Van Hien.
Letak persamaannya, keduanya meletakkan ketertarikan studi yang erat pada satu titik yang sama: mistisme atau kejawen. Perbedaannya, Mulder mencoba menarik benang merah dari asal muasal orang Jawa dengan praktik sehari-hari yang terjadi dalam masyarakat Jawa, sampai pada pemakaian istilah-istilah Jawa dalam berbangsa dan bernegara (di Indonesia) dalam kisaran tahun tahun 1990-an.
Sebagai seorang antropolog, ia berusaha menguak lebih dalam “misteri orang Jawa”, khususnya Jawa Tengah bagian selatan yang merupakan tempat risetnya. Sementara buku ini, secara spesifik membahas asal muasal lahirnya berbagai fenomena mistisisme khas Tengger sebagaimana disebutkan di atas.
Ajaran
Mistisme-Kejawen dan Kesempurnaan Hidup dalam berbagai kajian yang ada, orang Jawa, termasuk orang Tengger, selalu mempertanyakan keberadaan mereka. Masyarakat Tengger percaya bahwa nenek moyang mereka adalah orang-orang Hindu Wasiya yang beragama Brahma, yang pada 100 SM mendiami di pantai-pantai sekitar Kota Pasuruan dan Probolinggo. Dengan kedatangan agama Islam di pulau Jawa pada 1426 M, orang-orang Hindu ini kemudian terdesak dari daerah pantai hingga
akhirnya menetap di daerah yang sulit dijangkau oleh para pendatang, yaitu di daerah pegunungan
Tengger. Di sana mereka membentuk kelompok tersendiri yang hingga kini masih dikenal sebagai orang atau tiang Tengger (Bab 4, hal. 23).
Lebih jauh, pada sekitar abad ke-16, para pemuja Brahma di Tengger kedatangan pelarian dari orang Hindu Parsi (Persia). Akhirnya, masyarakat Tengger yang semula beragama Brahma beralih ke agama Parsi, yakni agama “Hindu Parsi”.
Ajaran mistis dan ngelmu-ngelmu jika dirunut pada muaranya berasal dari pemujaan terhadap matahari, bulan dan bintang-bintang sebagai pengendali dari keempat unsure utama (api, air, udara dan tanah). Kenyataan ini misalnya dapat dilihat dari ngelmu hitungan, yang berkitan dengan bintang rizki, bintang celaka, bintang gelap dan sebagainya. (hal. 51, 59, 67 da 71).
Dalam tradisi mistik, seperti di Jawa, proses akulturasi agama-agama yang ada memungkinkan teknik spiritual yang ditempuh memang beragam: sebagian memakai semedi disertai mantra, ada yang memusatkan diri pada chakra (pusat okultis di dalam tubuh), , beberapa lagi menggunakan dzikr Sufiatau tirta Yoga meditasi di dalam air atau “kungkum”), demi tujuan yang beraneka pula. Juga mengenai lembaga semisal slametan, guru kebatinan dan lain sebagainya yang menjadi media untuk berhubungan dengan Sangkan Paraning Dumadi. Menurut Paul Stange (2009), semua itu bahkan mencerminkan pluralitas keagamaan di Jawa pada saat ini sekaligus mempengaruhi perjalanan sejarahnya.
Dari penelusuran bab demi bab buku ini, pembaca akan sampai pada premis bahwa masyarakat Jawa sangat kental dengan nuansa intuitif dan penuh kesahajaan dalam menelaah suatu keadaan: perasaan lebih dikedepankan daripada rasio atau pencarian bukti yang lebih konkret, atau dalam bahasa yang lain, lebih mengedepankan aspek rohani/jiwani daripada masalah-masalah yang phisik atau profan.
Begitu pula adanya ajaran bahwa keberadaan manusia di dunia ini hanyalah “mampir
ngombe” – (numpang/singgah hanya untuk sekedar minum), yang bagi orang Jawa dimaknai bahwa kehidupan dunia ini adalah sementara. Tidak lebih dari sekedar “terminal” menuju Yang Maha Kuasa. Dalam perjalanan itu, orang Jawa perlu melalui tingkatan-tingkatan guna mencapai kesempurnaan hidup. Dengan cara itu, manusia diharapkan akan kembali dan bersatu dengan Tuhan. Orang yang
menganut faham kejawen yakin, Tuhan adalah asal-usul semua yang ada di dunia ini.
Hal lain, pembaca akan menemukan masih digunakannya Bahasa Melayu kuno yang dicampur bahasa Jawa sesuai kebiasaan dahulu, terutama dalam penjelasan bagan-bagan ngelmu yang berserakan di di beberapa tempat dalam buku setebal 369 halaman ini. Tampak Suyono membiarkan sesuai aslinya agar dapat mudah dirasakan arti dan maknanya. Disamping kenyataan bahwa bahasa Jawa sendiri pun, telah bercampur dari satu daerah dengan daerah lainnya waktu itu. Yang tentu saja pada setiap daerah di Jawa tersebut, mempunyai kekhususan tersendiri dalam ucapan daerah setempat.
Mengagumi Tengger, tentu tak cukup sekedar menyeruput kenikmatan landscape gunung Bromo atau keasyikan menyaksikan perayaan Kasada, lantas mengenal Tengger seutuhnya, untuk sesaat kemudian melupakannya kembali. Hadirnya buku ini, sebagaimana buku-buku sebelumnya, diharapkan tidak hanya memberi wawasan utuh tentang segala aspek yang melingkupi kekayaan kebudayaan Tengger, tetapi juga memberi pencerahan dan kebijaksanaan bagi pembaca untuk lebih menghargai local wisdom (kearifan lokal) yang nota bene adalah milik kita sendiri. Selamat membaca
One Day In a Teacher`s Life…
Jum`at lalu adalah hari yang penuh perjuangan sejak pagi. Hujan deras yang turun sejak malam sebelumnya membuat jalanan yang harus aku lewati menuju sekolah lebih banyak yang banjir daripada yang tidak.
Belum lagi sahabat lamaku si Bakteri E.Coli yang pagi ini akrab lagi denganku.Perut bergejolak, perasaan was-was kuatir motor mogok di tengah perjalanan, jalan macet, membuat aku pusing dan agak mual.Sampai di sekolah, si E.Coli menandak-nandak di perutku. Rasanya kangen banget sama WC.Tapi bel masuk sekolah berkumandang.Jadinya aku masuk ke kelaskudengan si E.Coli yang menari-nari di perutku.
Anak-anakku seperti biasanya riang gembira, meloncat kesana-kemari, menandak-nandak, salto,lari-lari memutari kelas,dan bahkan ada yang tiba-tiba menendang bola di dalam kelas. Karena perutku yang bergejolak, sikap main bola di dalam kelas yang biasanya mendapat bonus warning dari aku, kali ini hanya mendapat pandangan tidak senang dari wajahku. Akhirnya aku duduk di lantai sebagai isyarat untuk anak-anakku untuk ikutduduk dan membentuk lingkaran. Mereka dengan carut-marut berusaha duduk melingkar sampai akhirnya tenang dan siap berdoa.
Pelajaran mulai, dan untunglah jam pertama hari ini adalah pelajaran Bahasa Arab. Jadi aku hanya sebagai guru pendamping dan yang mengajar adalah guru Bahasa Arab langsung. Saat pelajaran hampir usai, kepalaku pusing luarbiasa. Aku langsung menarik diri dari keramaian dan duduk di pojok ruangan.Aku minum obat, dan bersandar supaya pusingnya segera hilang.
Namun apa yang terjadi saudara-saudara??? Si B,salah satu anakku tantrum. Tantrum adalah suatu kondisi dimana seseorang marah dengan tidak terkendali. Dia menendang-nendang, memukul, menggigit, melempar,teriak,menarik-narik dan membuang benda-benda di sekitarnya. Melihat kondisi seperti itu, jelas tidak mungkin aku membiarkan partnerku dan guru Bahasa Arab menangani anak ini berdua saja. Karena kekuatan anak yang sedang tantrum biasanya sangat besar. Sekitar satu jam anak ini tantrum sampai akhirnya reda.Tenagaku terkuras, tidak sempat istirahat makan dan minum, akhirnya kepalaku semakin pusing dan lemas. Dan tiba-tiba aku merasa kedinginan sampai akhirnya aku memakai jaketku. Aku kembali bersandar dan diam supaya tenagaku pulih dan kepalaku tidak pusing lagi.
Lalu saat makan siang tiba. Aku makan dengan kondisi lemas dan kedinginan. Tiba-tiba di tengah-tengah makan siangku, tiba-tiba si C, salah seorang anakku, datang dan duduk di depanku sambil berkata, “Ustadzah, aku minta maaf, ya?”
Aku langsung berhenti makan karena heran. “Kenapa kamu minta maaf?” tanyaku bingung.
“Iya, aku kan sudah nakal.” jawab anak ini polos.
“Memangnya kamu habis ngapain?” tanyaku masih bingung.
“Sebenarnya bukan aku yang nakal tapi si A tadi pagi nendang bola dalam kelas.” jelasnya lagi.
Aku yang masih belum mengerti bertanya lagi,”Lho, jadi tadi pagi kamu ikut main bola di dalam kelas?”
“Bukan, Us. Ya pokoknya aku minta maaf, ya Us?” jawab dia lagi.
Aku akhirnya mengangguk dan menyahut, “Iya.” supaya dia lega.
“Ustadzah sakit,ya?” tanya dia lagi.
“Hm? Cuman agak pusing.” jawabku sambil tersenyum pura-pura sehat.
“Kalo gitu, aku doain cepat sembuh ya,Us.” katanya lagi.
Aku terharu dengan ketulusannya.Jadi aku jawab,”Iya. Terimakasih, ya?”
Dia lalu pergi. Dan aku melanjutkan makanku. Namun gak lama kemudian dia kembali lagi bersama si B, anak yang tadi tantrum.
“Ustadzah sakit ya?” tanya si B yang ketika tidak tantrum bagaikan malaikat kecil.
Aku tersenyum lagi, “Cuma agak pusing.”
Lalu mereka berdua menunggui aku sampai aku menuju ke tempat cuci piring.
Ketika aku mencuci piring, mereka berdua kompak berkata,”Ustadzah, kita doakan ustadzah semoga lekas sembuh,ya?”
Aku berhenti mencuci piring, dan menatap mereka dengan rasa haru.”Iya, terimakasih,ya?”
Lalu mereka berdua berlari masuk ke kelas.
Dalam perjalanan masuk ke kelasku, aku berpikir. Berarti si C tadi mengira, aku sakit karena ulahnya dan teman-temannya di dalam kelas yang selalu heboh.Dan dia menyuruh si B tadi ikut mendoakanku karena tadi si C tahu aku juga ikut turun tangan menangani si B yang sedang tantrum. Dalam pikiran si C, aku sakitjuga karena kecapekan mengatasi kemarahan si B tadi.
Saat itu aku benar-benar merasa terharu. Ternyata anak-anak juga bisa merasakan empati yang sebegitu besarnya terhadap orang lain.Dan di tengah perjalanan ke kelasku, aku berpapasan dengan muridku kelas 2 dulu yang sekarang sudah kelas 3. Mereka dengan riangnya menyalami dan sebagian memeluk aku dengan senyumnya yang polos dan riang. Mau tidak mau aku jadi ikut tersenyum riang dan ditambah dengan peristiwa mengharukan tadi, rasa pusingku dan juga penyakit perut gara-gara si E.Coli sebagian menghilang.
Hari ini aku banyak belajar dari anak-anakku. Belajar mengasah empati, belajar mengakui kesalahan, belajar menghibur dan membahagiakan orang lain walau hanya dengan sapaan riang dan senyum yang ceria ketika berpapasan.
Anak-anakku, tingkahmu memang selalu heboh tiada duanya. Namun, kepolosan dan ketulusan kalian juga tiada tandingnya.
That`s why I love you all…You guys always made my days valuable and memorable…
Keluarga, Kunci Pembentukan Karakter Anak
Oleh Ade Jun Panjaitan
Manusia modern penghuni kota-kota besar berharap sekolah dapat berperan membentuk karakter anak, selain berfungsi sebagai tempat manimba ilmu. Tapi, kunci pembentukan karakter dan fondasi pendidikan sejatinya adalah keluarga,dan peran sekolah hanya “pelaksana proyek”.Seiring berjalannya waktu, maka populasi, pengetahuan, dan kebudayaan manusia juga terus berkembang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, setiap 15 menit sebanyak 15 bayi lahir di Inggris, 244 bayi di Tiongkok, dan 351 bayi di India. Namun, data lain mengungkapkan, sebanyak 16 ribu balita meninggal setiap hari akibat gizi buruk. Selain itu, sekitar 20% dari jumlah manusia di planet bumi sulit mendapatkan air bersih, dan 50% tidak terlayani sanitasi yang layak.
“Data-data itulah yang seharusnya disadari oleh setiap media pendidikan, khususnya sekolah, untuk menciptakan sumber daya yang lebih bermutu guna mengokomodasi segala perkembangan zaman,” ujar Brian Cox, principal of Sekolah Pelita Harapan dalam seminar pendidikan bertajuk A Refreshing Moment, Reflecting on Family and Education di Kemang Village, Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Menurut Brian, sekolah yang ideal adalah sekolah yang juga dapat membantu para murid untuk mencari kebenaran, bukan hanya mengajarkan sesuatu yang mereka sukai. “Hal itu nantinya menyebabkan setiap anak tidak memiliki prinsip, melainkan hanya selera sesaat, sehingga hanya bisa membentuk mereka menjadi mahluk yang subjektif,” ujar pendidik yang sudah menggeluti dunia pendidikan selama 38 tahun itu.
Oleh karena itu, dalam memperoleh pengetahuan, diperlukan kebijaksanaan agar pengetahuan ini berguna bagi masyarakat. Agar setiap anak memiliki kebijaksanaan itu, dibutuhkan tiga elemen terpenting yang harus diajarkan oleh sekolah, yakni pengetahuan yang baik, berlandaskan keyakinan, dan berkarakter yang berkiblatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Brian menyebutkan, bila godly character sudah tertanam dengan baik dalam pribadi setiap anak, niscaya segala pendidikan yang telah dienyam dapat diaplikasikan dengan bijak. “Bijak adalah inti dari setiap pengetahuan, sehingga pengetahuan itu berguna bagi orang lain,” ujarnya.
Berdasarkan hasil riset Menteri Pendidikan Amerika Serikat (AS) Richard Riley, sekitar 10 jenis pekerjaan pada 2004 tidak akan ada lagi pada 2010. “Hal itupun dicermati oleh Universitas Pelita Harapan (UPH), caranya yakni menyiapkan para mahasiswanya untuk melakukan suatu pekerjaan yang saat ini belum ada,” ungkap Brian.
Selain membekali para murid dengan ilmu, menurut Brian, sekolah juga berguna membentuk murid menjadi bagian dari masyarakat yang baik, sehingga kualitas hidup yang baik dapat berkembang dalam masyarakat.
Fondasinya Tetap Keluarga
Hal menarik disampaikan oleh James T Riady, pendiri Yayasan Pendidikan Pelita Harapan. Terlepas dari penting dan besarnya peranan sekolah sebagai “pencetak” langsung sumber daya manusia (SDM), namun James tetap mengingatkan bahwa fondasi utama pendidikan adalah keluarga. “Sekolah itu hanya berfungsi sebagai kontraktor pendidikan dari rumah,” ujarnya.
Apa yang diajarkan di sekolah merupakan aplikasi dan pengembangan dari setiap pengetahuan dasar yang diperoleh dari rumah. Pembentukan karakter dan penanaman moral serta etika, harus sudah dilakukan sebelum si anak berangkat ke sekolah.
Menurut James, seharusnya para orangtua tidak bisa melepaskan atensi dan menyerahkan begitu saja si anak pada pihak sekolah, tanpa memperhatikan perkembangan pendidikannya. Komunikasi antara sekolah dan orangtua harus selalu dijaga. Itu dimaksudkan agar para orangtua juga mengetahui secara baik mengenai bakat sesungguhnya si anak.
James mengemukakan pengalaman pribadi keluarganya sebagai referensi dalam membentuk “identitas” generasi muda. Berdasarkan pengalamannya, orangtua harus memperhatikan perkembangan anak dari usia 8 sampai 12 tahun, karena masa penting pertumbuhan berada pada kisaran usia tersebut. Pada rentang usia tersebut anak dinilai masih polos sehingga rentan terkena pengaruh dari luar.
“Membentuk identitas anak itu seperti dua sisi koin. Apabila beban hidup sangat sedikit dan segalanya serba tersedia, hanya akan menjadikan anak seperti mesin uang. Sebaliknya bila beban terlalu banyak bisa menyebabkan anak frustasi,” ungkap James.
James mencontohkan itu pada masalah pengembangan bakat anak. Setiap anak memiliki bakat atau talentanya sendiri. “Banyak orangtua yang memarahi anaknya bila nilai matematikanya 6. Padahal, mereka (orangtua) tidak tahu, bahwa nilai itu adalah yang terbaik buat anaknya,” paparnya. Itulah salah satu contoh kasus para orangtua yang acapkali “menutup mata”, bahkan mungkin memang tidak mengetahui sama sekali akan kemampuan si anak. Di lain sisi, meski para orangtua tidak bisa memaksakannya, namun anak harus terus didorong untuk memaksimalkan potensinya. “Inilah keuntungan dari komunikasi yang harus selalu terjaga antara orangtua dan sekolah,” ujar James.
Mengirim anak belajar ke sekolah berkualitas di luar negeri, kerap pula menjadi pilihan banyak keluarga mapan. Di sini, para orangtua yakin bahwa sekolah di luar negeri tak hanya mengajarkan ilmu, namun turut membentuk karakter siswanya. Bagi James Riady, seharusnya para orangtua tak mudah silau dengan sekolah luar negeri. Makanya, para orangtua jangan tergesa-gesa menyekolahkan anaknya di luar negeri.
“Selain kini telah banyak sekolah lokal yang memenuhi standar internasional, si anak mungkin akan banyak menemui kendala ketika menuntut ilmu di negeri orang,” ujar James. Perbedaan gaya kehidupan dan parameter norma kesopanan yang berbeda antara budaya Barat dan Timur, merupakan salah satu contoh kendala.
Agus T, salah satu orangtua, sependapat dengan James. Agus menyoroti sisi pengawasan yang minim, dan itu menjadi alasan utama mengapa dia enggan menyekolahkan anaknya ke luar negeri, “Kalau sekolah di sini (dalam negeri), kan gampang saya mengawasi anak,” ujarnya.
“Seminar A Refreshing Moment, Reflecting on Family and Education ini bagus sekali. Terlebih lagi, pemaparan Pak James Riady mengenai keluarga sebagai fondasi utama pendidikan anak,” ujar Irwan, bapak dengan dua anak yang berdomisili di Jakarta ini.
Kendati Irwan tak memungkiri bahwa kualitas sekolah di luar negeri lebih baik bila dibandingkan sekolah di Indonesia, namun dia mengaku keberatan untuk melepas anak-anaknya untuk bersekolah di luar negeri. “Mungkin nanti, ketika mereka melanjutkan pendidikan ke universitas, baru saya kirim ke luar negeri,” ujarnya.
Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof Melly Sri Sulastri Rifai juga menekankan, bahwa kunci keberhasilan pembentukan karakter seorang anak terletak pada keluarga, sebab keluarga menjadi wadah pembentukan karakter yang utama dan pertama. “Semua orang harusnya menyadari hal itu,” ujarnya.
Kendati ada sekolah dan lingkungan masyarakat yang turut membentuk kepribadian seseorang, kunci utamanya tetap terletak pada orangtua. Pasalnya, orangtua bukan hanya mendidik anak sewaktu kecil, tetapi sampai mereka dewasa. Masalahnya, bagaimana setiap keluarga mampu melaksanakan tugas itu dengan maksimal.
Model Pembentukan Karakter
Direktur Eksekutif Indonesia Heritage Foundation (IHF) Ratna Megawangi mencermati, pendidikan budi pekerti yang selama ini diberikan pada siswa-siswi, baik melalui pelajaran agama dan Pendidikan Moral Pancasila (PMP), tidak berhasil, kalau tidak ingin dikatakan gagal total. Kendati pelajaran-pelajaran itu isinya bagus, sayangnya itu tidak membekas ke dalam perilaku manusianya.
Menurut Ratna, menjadi manusia yang berkarakter butuh proses yang tidak sebentar. Jadi, tidak cukup hanya melalui pelajaran di sekolah, atau pergaulan di rumah.
Ratna mengaku miris melihat buruknya kondisi moral masyarakat pada awal reformasi tahun 1998. Pasca kerusuhan 1997/1998, bangsa Indonesia penuh diliputi amarah, dendam, caci maki, dan rasa curiga. Ia meyakini ada yang salah dengan sistem pendidikan yang selama ini diterapkan di negeri ini. Sistem pendidikan nasional telah gagal menanamkan karakter yang baik bagi siswa-siswi.
Secara spesifik, Ratna menyebut tiga unsur yang harus dilakukan dalam model pendidikan karakter. Pertama, Knowing the good. Untuk membentuk karakter, anak tidak hanya sekadar tahu mengenai hal-hal yang baik, namun mereka harus dapat memahami kenapa perlu melakukan hal itu. ‘Selama ini mereka tahunya mana yang baik dan buruk, namun mereka tidak tahu alasannya,” ungkap Ratna.
Kedua, Feeling the good. Konsep ini mencoba membangkitkan rasa cinta anak untuk melakukan perbuatan baik. Di sini anak dilatih untuk merasakan efek dari perbuatan baik yang dia lakukan. Jika Feeling the good sudah tertanam, itu akan menjadi “mesin” atau kekuatan luar biasa dari dalam diri seseorang untuk melakukan kebaikan atau menghindarkan perbuatan negatif.
Ketiga, Acting the good. Pada tahap ini, anak dilatih untuk berbuat mulia. Tanpa melakukan apa yang sudah diketahui atau dirasakan oleh seseorang, tidak akan ada artinya. Selama ini hanya imbauan saja, padahal berbuat sesuatu yang baik itu harus dilatih, dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Menurut Ratna, ketiga faktor tersebut harus dilatih secara terus menerus hingga menjadi kebiasaan. Jadi, konsep yang dibangun, adalah habit of the mind, habit of the heart, dan habit of the hands.
Karakter menjadi kunci utama sebuah bangsa untuk bisa maju. Indonesia yang kaya dengan sumber daya alam, tidak akan maju jika sumber daya manusia (SDM) tidak berkarakter, tidak jujur, tidak bertanggungjawab, tidak mandiri, serta tidak jujur.
Pendidikan merupakan sebuah kegiatan manusia yang di dalamnya terdapat tindakan edukatif dan didaktis yang diperuntukkan bagi generasi yang bertumbuh. Dalam kegiatan mendidik, manusia menghayati adanya tujuan-tujuan pendidikan.
Sumber: http://www.investorindonesia.com/index.php?option=com_content&task=view&id=48926
Pendidikan Karakter dan Pendidikan Anti Korupsi (Dialog pak Alimufi dg Pak Edy)
Ada diskusi menarik via email antara Pak Alimufi (papa ananda tanti) dengan pak Edy (papa ananda Dhea) dg tema Pendidikan Karakter dan Pendidikan Anti Korupsi.
silahkan simak, semoga kita bisa mengambil manfaatnya.
Bagian I
Assalamualaikum wr.wb.
Terima kasih pak Syamsul komentarnya. Saya membalas email bapak dengan santai supaya di antara kita bisa berkomunikasi dengan bapak/ibu orangtua siswa yang lain juga dengan santai, rileks, dan jangan serius terus. Kadang serius, suatu saat juga diselingi info yang ringan-ringan saja tentang pendidikan. Saya mencoba memberikan info ringan tentang pendidikan karakter dan pendidikan anti korupsi yang akan mewarna dunia pendidikan kita.
Bicara pendidikan selalu dinamis, selalu akan timbul permasalahan-permasalahan baru yang perlu segera diatasi. Rasanya kita jadi ingat dengan semboyan pegadaian: ” menga-tasi masalah, tanpa masalah”. Bagi dunia pendidikan semboyan ini tidak sesuai, karena tidak akan berkembang dan tidak akan ada peningkatan kualitas pendidikan di negeri ini. Di dunia pendidikan selalu ada perubahan, karena menyangkut pembangunan sumber daya manusia yang selalu berubah setiap saat.
Ketika dimana-mana timbul kerusuhan, tawuran mahasiswa yang satu dengan mahasiswa yang lain di satu perguruan tinggi, tawuran antara siswa suatu sekolah dengan siswa sekolah lain di kota-kota besar, ketika muncul bentrok antar desa, antar suku, setiap hari kita sering menyaksikan tayangan pertengkaran dalam suatu keluarga di sinetron, dan tayangan video asusila, maka sekarang kita baru sadar bahwa pendidikan karakter harus dimasukkan dalam semua mata pelajaran mulai SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA dan SMK. Sekarang di kota-kota lain (di Surabaya saya belum dengar) guru-guru mulai disibukkan dengan pelatihan membuat Rencana Persiapan Pembelajaran (RPP) dengan memasukkan pendidikan karakter pada semua pelajaran. Kita juga baru sadar, kenapa pendidikan budi pekerti dulu pernah ada, sekarang tidak dimasukkan dalam kurikulum? Alasannya, pendidikan budi pekerti sudah dimasukkan dalam pendidikan agama.
Inilah dinamikanya pendidikan kita, selalu menuntut adanya perubahan dan selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta perkembangan sosial kemasyarakan kita. Itulah sebabnya, maka secara periodik (sekitar 5 tahun) kurikulum harus berubah, sebab kalau tidak, maka kurikulum kita akan ketinggalan zaman. Sering kita dengar di lapangan, ganti menteri ganti kurikulum; bukan seperti itu; tapi memang itu tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), dan perkembangan sosial masyarakat. Sebab kalau tidak, apakah anak didik kita akan diberikan pengetahuan yang ketinggalan zaman? Media yang kita gunakan sekarang ini (internet) adalah akibat dari perkembangan Iptek; 3-5 tahun yang lalu kita tidak bisa berkomunikasi seperti ini.
Lalu, ada informasi baru dan ini sudah disiapkan Kemendiknas dan KPK, mulai tahun 2011 dipastikan pendidikan anti korupsi akan diberikan kepada siswa mulai dari SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK, dan Perguruan Tinggi. Ini suatu upaya yang baik dari Pemerintah, walaupun agak terlambat.
Dua upaya Pemerintah di atas, merupakan tantangan yang sangat berat bagi dunia pendidikan kita. Disatu sisi guru yang menangani pendidikan di sekolah harus berupaya mendidik siswanya dengan muatan pendidikan karakter dan pendidikan anti korupsi (dan mungkin menyusul muatan yang lain), tetapi di sisi lain di seberang sana, dalam kehidupan sehari-hari, persoalan itu disaksikan dengan jelas dan nyata oleh anak didik kita.
Ini sharing saya pak Syamsul di media ini. Mari kita gunakan media ini untuk memberikan informasi lain tentang peningkatan mutu pendidikan di Indonesia khususnya di SAIMS tempat anak kita belajar. Suatu saat media ini kita isi dengan masalah-masalah lain tentang pendidikan kita sebagai tambahan wawasan bagi Bapak dan Ibu Orangtua Siswa.
Pak Edy, ada komentar?
Alimufi Arief
Orangtua Tanti.
Bagian II
Wa’alaikum salam wr. wb.
Alhamdulillah, habis subuh tadi kita sdh mendapat pencerahan yang menjanjikan dari guru kita semua, matur nuwun sanget pak Alimufi.
Sudah selayaknya kita menyambut hadirnya pengkayaan muatan pendidikan ini dengan penuh harapan.
Kondisi yang sangat mengkawatirkan kita, sebagai orangtua, melihat :
- “anak sekolahan” kok pakai tawuran,
- “anak sekolahan” kok gak mau sholat
- “anak sekolahan” kok curang
- output “anak sekolahan” kok korupsi
Saya termasuk yang tidak merasakan pelajaran budi pekerti secara formal, tapi alhamdulillah, pelajaran itu telah diganti dan diperkaya
dalam lingkungan keluarga yang mengedepankan kejujuran dan kasih sayang.
Menurut saya, pendidikan karakter adalah basic pendidikan (akar pendidikan), sedangkan pendidikan anti korupsi adalah content,
sebagaimana juga aturan berlalu-lintas, syariat beragama, norma hukum dan lain-lain.
Kalau karakter anak sdh terbentuk dengan baik, insya Allah sikap hidupnya akan mengarah pada hal yang benar (sesuai norma),
dan jangan heran kalau sikap kita akan dinilai dan diluruskan mereka, alhamdulillah,
Pengalaman saya, pernah diingatkan anak :
- Bapak kok melanggar marka jalan? ini khan garisnya nggak putus-putus
- Bapak kok nggak segera sholat? sudah adzan tuh…..
- Bapak kok minum pakai tangan kiri? Rosulullah nggak begitu
- Bapak kok bohong? masih di rumah kok bilang sudah di jalan
Semoga anak kita menjadi anak sholeh/sholehah
“mengajari anak untuk berprestasi akademis penting, mengajari anak untuk memaknai hidup dengan akhlaqul karimah jauh lebih penting”
Matur nuwun
Edys+++
Bagian III
Assalamualaim wr.wb.
Pak Edy yth.,
Itulah fakta yang sering kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Putra-putri kita melihat contoh kongkrit di lapangan, tanpa ditutup-tutupi. Anak kita menyaksikan langsung kejadian itu secara fulgar di kehidupannya, sementara guru berteori dan menyampaikan kepada siswa tidak boleh begini, tidak boleh begitu, melarang ini, melarang itu, dan sebagainya. Apa yang disampaikan guru untuk menjadikan siswanya berkarakter yang baik, akan bertolak belakang dengan kenyataannya. Memang berat sekali tugas guru.
Kalau seperti itu, maka kewajiban orangtualah untuk mendampingi putra/putrinya agar menjadi putra-putri berkarakter yang baik. Kita kan selalu berdoa semoga putra-putri kita menjadi putra-putri yang sholeh/sholehah seperti harapan kita semua. Amin……
Selamat bertugas pak Edy, saya tahu bapak sangat sibuk hari ini!
Wassalam wr.wb.
Alimufi Arief
Sambutan Presiden Pada Peringatan Hardiknas 2010
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PUNCAK PERINGATAN HARI PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010
ISTANA NEGARA, 11 MEI 2010
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati Ketua MPR RI, Bapak Taufik Kiemas,
Yang saya hormati para menteri dan anggota Kabinet Indonesia Bersatu II,
Yang saya hormati para Mantan Menteri Pendidikan, Saudara Gubernur DKI Jakarta, para pimpinan Perguruan Tinggi, para pendidik, guru besar, guru, mahasiswa dan siswa yang saya cintai, dan segenap pejuang dan pecinta pendidikan di seluruh tanah air yang saya banggakan,
Pada kesempatan yang baik dan insya Allah penuh berkah ini, saya mengajak saudara semua untuk sekali lagi, memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, karena kepada kita masih diberikan kesempatan untuk melanjutkan kontribusi kita kepada pembangunan bangsa, utamanya pembangunan pendidikan nasional.
Semoga puncak peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2010 ini dapat meningkatkan tanggung jawab dan komitmen kita semua dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di seluruh Indonesia.
Saya juga ingin menggunakan kesempatan yang baik ini untuk mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para pemimpin dan pengelola pendidikan kepada para guru dan para pembimbing kepada kalangan dunia usaha dan masyarakat luas yang juga terus berkontribusi dalam dunia pendidikan. Kepada para pengelola dan guru sekolah-sekolah luar biasa dan tentu saja kepada orang tua murid yang juga melakukan bimbingan di luar sekolah.
Hadirin yang saya hormati,
Tadi kita saksikan pemberian tanda penghargaan kepada mereka yang memiliki dedikasi yang tinggi, serta mereka-mereka yang memiliki prestasi yang luar biasa. Oleh karena itu, atas nama negara dan pemerintah, saya mengucapkan selamat atas prestasi dan penghargaan yang diraih itu. Jadilah pahlawan-pahlawan pendidikan yang sejati.
Saya menyampaikan rasa hormat kepada semua para pejuang dan pecinta pendidikan yang bekerja keras di seluruh tanah air, dengan harapan semoga jasa saudara benar-benar bisa mempercepat peningkatan kualitas pendidikan kita. Juga hormat dan penghargaan saya kepada anak-anak yang berprestasi dengan pesan dan harapan jaga dan kembangkan apa yang telah kalian raih untuk mencapai sukses yang lebih besar lagi di masa depan.
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Di berbagai kesempatan, kita semua, termasuk saya telah membicarakan hal-hal yang mendasar dalam dunia pendidikan. Misalnya, tentang infrastruktur fisik pendidikan, tentang kurikulum, metodologi dan sistem evaluasi, tentang sasaran-sasaran yang perlu dicapai oleh dunia pendidikan, baik dalam mengembangkan ilmu pengetahuan maupun di dalam membentuk watak dan nilai pada anak didik, termasuk kualitas dan kesejahteraan para pendidik, para guru besar, para dosen, para guru, dan semua pihak yang mengelola pendidikan di negeri kita.
Dan apa yang kita bahas dan diskusikan itu telah kita tuangkan dalam berbagai instrumen, apakah undang-undang, peraturan pemerintah maupun peraturan daerah. Hal-hal yang bersifat upaya peningkatan kesejahteraan secara bertahap sesuai dengan kemampuan negara juga telah kita berikan.
Pada peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini, saya ingin menyampaikan yang berbeda sebagai satu refleksi tentang Hari Pendidikan yang penting ini, sekaligus untuk memastikan bahwa arah pembangunan pendidikan ini di negeri kita menuju ke arah yang benar.
Saudara-saudara,
Secara singkat, saya ingin mengedepankan 5 topik, 5 isu penting dalam dunia pendidikan. Pertama adalah hubungan pendidikan dengan pembentukan watak, atau yang kita kenal dengan character building. Yang kedua, kaitan pendidikan dengan kesiapan dalam menjalani kehidupan setelah seseorang selesai mengikuti pendidikan itu. Yang ketiga, kaitan pendidikan dan lapangan pekerjaan, yang ini juga menjadi prioritas dalam pembangunan 5 tahun mendatang.
Yang keempat, bagaimana kita membangun masyarakat berpengetahuan atau knowledge society yang kita mulai dari meningkatkan basis pengetahuan masyarakat. Dan yang kelima atau yang terakhir, bagaimana kita bisa membangun budaya inovasi, the culture of innovation yang sangat diperlukan agar negara kita benar-benar menjadi negara yang maju di abad 21 ini.
Lima hal itulah yang secara ringkas ingin saya sampaikan dan saya tujukan kepada semua pengelola pendidikan, bahkan segenap pemangku kepentingan di negeri ini.
Pertama saudara-saudara, sebelum saya masuk kepada 5 hal tadi, saya ingin mengajak saudara memahami perkembangan dunia saat ini, termasuk perkembangan negeri kita di tengah-tengah dunia yang terus berubah. Dengan demikian, apa pun yang kita lakukan, termasuk pembangunan di bidang pendidikan tidak akan kehilangan arah, karena sesuai dengan apa yang terjadi pada dunia kita dan pada negeri kita.
Saudara-saudara,
Perkembangan kehidupan masyarakat dewasa ini, baik di tingkat nasional maupun di tingkat global dapat saya sampaikan sebagai berikut: kita sekarang hidup dalam era globalisasi, universalisasi, era informasi canggih, dan juga alam demokrasi. Dalam keadaan dunia dan negeri kita seperti itu, kita menghadapi tantangan-tantangan baru, misalnya perubahan iklim yang sering mendatangkan bencana, berkembangnya berbagai penyakit menular yang bisa melanda bangsa manapun di dunia ini. Tiba-tiba kita berhadapan dengan permasalahan pangan, energi, dan air, karena kebutuhan yang luar biasa pada tingkat dunia, sedangkan sumber-sumber itu tidak bertambah sebanding dengan pertumbuhan penduduk yang kini telah mencapai 6,6 milyar manusia.
Kemudian tantangan yang lain, ekonomi dunia tiba-tiba sekarang ini rentan krisis. Krisis bisa terjadi setiap saat. Krisis yang dialami oleh satu negara dengan cepat bisa melanda negara-negara yang lain. Kemudian belum kejahatan yang makin beragam. Kejahatan narkotika, perdagangan manusia, terorisme, dan sebagainya. Itulah dunia kita, itulah tantangan-tantangan yang kita hadapi.
Namun saudara-saudara, dunia dan negeri kita ini bukan hanya menghadirkan tantangan, ancaman, tetapi juga peluang atau opportunity. Kalau kita cerdas dan arif mendapatkan peluang ini, kita akan menjadi bangsa yang beruntung. Peluang yang ingin saya sampaikan, antara lain, adalah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta informasi bagi yang mendayagunakannya secara bijak dan tepat akan membawa manfaat. Kerja sama ekonomi makin terbuka, kalau kita bisa meningkatkan daya saing perekonomian kita, kita juga mendapatkan manfaat.
Muncul solidaritas global, kesetiakawanan dunia terhadap negara-negara yang terkena musibah bencana misalnya, atau ada krisis kemanusiaan. Ingat, waktu kita mengalami musibah tsunami di Aceh dan Nias dalam skala yang besar ataupun gempa di Yogya dan Klaten misalnya, negara-negara lain, bangsa-bangsa sedunia datang untuk membantu kita. Indonesia pun membantu negara-negara lain yang mengalami hal yang sama. Semua itu adalah peluang, tentu banyak lagi yang harus kita dapatkan secara cerdas dan bijak.
Oleh karena itu, dalam iklim dan alam seperti ini, jenis perjuangan, struggle of life dan persaingan di antara bangsa-bangsa, bahkan di antara warga masyarakat adalah perjuangan untuk hidup, to survive. Mungkin kita tidak begitu merasakan, tapi bagi negara-negara yang sangat miskin, yang tiap hari berjuang untuk mendapatkan makanan dan kebutuhan-kebutuhan dasar, perkembangan seperti ini berkaitan erat dengan kelangsungan hidupnya.
Kemudian perjuangan yang lain, kompetisi yang lain adalah untuk mendapatkan pekerjaan atau profesi dan kemudian untuk sukses, baik sebagai bangsa maupun sebagai individu orang-seorang. Saudara pasti tahu dan bersetuju dengan saya, menghadapi dunia seperti ini, tentu kita harus meningkatkan human capital kita, dan meningkatkan daya saing kita. Dan kita bisa menyimpulkan yang akan survive dalam arti luas dan yang akan menang dan sukses dalam era seperti ini adalah saya boleh mengedepankan 2 hal, mereka yang berpengetahuan dan berketrampilan, knowledge and skill. Knowledge sendiri tidak cukup pengetahuan itu, tapi skills, ketrampilan di berbagai cabang profesi. Dan yang kedua adalah mereka yang berkarakter kuat, baik bangsa maupun individu.
Hadirin yang saya hormati,
Lima hal tadi yang saya sampaikan secara ringkas adalah sebagai berikut, pertama, sesuai dengan tema Hardiknas tahun ini tentang character building. Character building tentu bukan hanya tugas dunia pendidikan, tugas bangsa secara keseluruhan. Tetapi kalau saya harus kaitkan dengan pendidikan, maka saya bisa menyampaikan hal-hal sebagai berikut. Yang disebut yang berkarakter kuat dan baik adalah baik perseorangan atau masyarakat atau bahkan bangsa adalah mereka yang memiliki akhlak, moral, dan budi pekerti yang baik.
Yang kedua, juga mereka yang memiliki kepribadian, kemandirian, keyakinan diri dan disiplin yang baik pula. Mereka yang memiliki semangat, bersikap optimis dan berpikir positif, sehingga energi yang dibawa juga energi positif. Mereka yang ulet, tegar, tidak mudah menyerah, tidak cengeng dan gigih mengatasi masalah. Dan mereka yang toleran terhadap yang lain, menghargai yang lain, rukun dengan saudara-saudaranya, utamanya se-bangsa dan se-tanah air. Dan yang tidak kalah penting, yang tidak kalah pentingnya sebagai negara yang merdeka, karena perjuangan kita semua adalah perlunya menjaga patriotisme dan nasionalisme, cinta tanah air dan cinta bangsa.
Pertanyaannya adalah bagaimana kita membentuk manusia, anak didik kita memiliki karakter seperti itu? Pertama-tama, ya dengan pelajaran yang sering diajarkan yang bersifat teori, tapi itu menurut saya baru sekitar 30%. Harus diimbangi dengan praktek dan pembiasaan-pembiasaan untuk berdisiplin, untuk tidak mudah menyerah, untuk menghargai yang lain dan sebagainya. Juga diperlukan contoh dan tauladan dari semua. Kalau pendidikan ya dari pimpinan sekolah, para guru, yang tiap hari bertemu, yang berinteraksi setiap saat. Mereka harus menjadi contoh, menjadi role models.
Kemudian perbanyak makin tinggi pendidikan itu, studi kasus ataupun latihan-latihan, seperti outbound training. Itu juga character building, leadership training yang sangat diperlukan.
Saudara-saudara,
Kalau saya berkunjung ke SD, SMP, saudara sering mendampingi saya. Sebelum saya dipresentasikan sesuatu yang jauh, yang maju, yang membanggakan, saya lihat dulu, ada enggak tempat-tempat pembuangan sampah, tong-tong sampah. Saya lihat kamar mandi dan WC-nya bersih tidak, bau tidak, airnya ada tidak. Ada enggak tumbuh-tumbuhan supaya tidak kerontang di situ. Kebersihan secara umum, ketertiban secara umum, sebab kalau anak kita TK, SD, SMP selama 10 tahun lebih tiap hari berada dalam lingkungan yang bersih, lingkungan yang tertib, lingkungan yang teratur, itu ada value creation, values creation, ada character building dari segi itu. Jadi bisa kita lakukan semuanya itu dengan sebaik-baiknya.
Character building yang bersifat kebangsaan, ketanahairan, saya kira sudah mulai dilupakan oleh kita semua. Saya mengajak, marilah kita revitalisasikan. Di sini ada Pak Sumarno Sudarsono yang saya tahu lebih dari 30 tahun memfokuskan diri untuk pembangunan karakter atau character building. Tentu tidak cukup hanya beliau sendiri, harus banyak lagi di negeri kita ini yang tekun, yang gigih, yang rajin untuk mengajak kita semua memiliki karakter yang baik, termasuk patriotisme dan nasionalme kita.
Saudara-saudara, itu pertama.
Yang kedua, bagaimana pendidikan dan kesiapan dalam kehidupan, saya meminta atensi Mendiknas. Saya minta atensi para pendidik dan para guru sekalian. Begini, kadang-kadang kurikulum, mata ajaran, metodologi di SD, SMP utamanya pendidikan dasar dan kemudian juga SMA dalam batas tertentu, itu sebagian kena, sebagian belum memenuhi apa yang kita harapkan. Bagaimana seseorang yang sudah mengenyam pendidikan 10 tahun, apa yang ada dalam pikirannya, apa yang ada dalam hatinya, bagaimana perilaku sehari-harinya. Saya ingin mengajak kita semua back to basics.
Memang kita harus menuju pendidikan yang super modern, yang maju, yang tepat zaman, tapi jangan dilupakan hal-hal yang elementer, yang fundamental, yang basic tadi.
Begini, katakanlah anak SD, SMP di pelosok-pelosok tanah air kita ataupun di kota-kota besar, ataupun di manapun, maka dia harus siap ketika masuk ke lingkungan masyarakat atau hidup dalam kehidupan masyarakat, selamat dari ancaman penyakit-penyakit menular. Oleh karena itu, kurikulum SD, SMP harus diajari, diajarkan bagaimana kita hidup sehat, terbebas dari penyakit-penyakit yang setiap saat bisa datang. Harus tahu, banyak yang sakit, karena tidak tahu kalau itu menular, kalau itu bisa jadi wabah dan sebagainya. Juga bagaimana hidup hemat terhadap energi, terhadap air, terhadap pangan sejak awal untuk tidak berperilaku boros. Agar dapat pekerjaan suatu saat, anak-anak kita diajarkan, saya harus punya ketrampilan, harus punya pengetahuan sesuai dengan apa yang kalian cita-citakan.
Mereka harus tahu mencari pekerjaan tidak mudah, persaingan akan keras. Oleh karena itu, diperlukan keuletan, yang saya sebut dengan karakter yang kuat tadi itu. Kemudian suatu saat, dia masuk dalam alam demokrasi, di mana-mana ada kebebasan, kepada mereka diajarkan berpikir kritis, daya kritis, ketika mendengar, melihat, dalam era kebebasan itu dia bisa tahu mana-mana yang tepat, dan mana-mana yang tidak tepat.
Pendek kata, kita harus mempersiapkan mereka untuk siap menghadapi dan menjalani kehidupannya. Tidak boleh ada gap, apa yang diajarkan dalam pendidikan dasar dengan apa yang akan mereka alami dalam kehidupan, di keluarganya, di masyarakatnya, dan di tingkat bangsa dan negaranya. Itu yang kedua.
Yang ketiga, pendidikan dan lapangan pekerjaan. Tidak terlalu sulit di sini. Saya minta sejak SD, SMP dikenalkan, diorientasikan profesi itu apa saja. Saya punya buku satu set, bagaimana kalau yang ingin menjadi dokter, seperti apa sih profesi dokter itu, montir, petani, tentara, polisi, sebanyak mungkin. Dengan demikian, anak-anak kita sejak awal, kalau ingin menjadi penerbang atau ingin jadi peneliti, atau ingin jadi pedagang mengerti seluk beluk tentang profesi itu.
Kemudian komposisi yang tepat Mendiknas, di tingkat umum pendidikan kejuruan, teori dan praktek, itu juga cara mendekatkan pendidikan dengan lapangan pekerjaan. Dan perlu sinergi, lembaga pendidikan, lapangan pekerjaan atau pasar tenaga kerja dan pemerintah. Jangan sampai sebuah provinsi sudah terlalu banyak sarjana politik, sudah terlalu banyak misalkan ahli pertanian, yang didorong itu semua, sehingga pengangguran makin meningkat, padahal ahli perikanan kurang.
Kemudian mereka yang bergerak di bidang hukum kurang misalnya. Jadi ada korelasi antara lapangan pekerjaan, pasar tenaga kerja dengan ada yang dihasilkan oleh lembaga-lembaga pendidikan tiap tahunnya. Di sinilah perlu sinergi, di sinilah perlu semacam tripartit yang lain, schools, labour market, dengan the government, baik pusat maupun daerah.
Kemudian satu lagi ini menjadi gerakan di seluruh dunia yang disebut lifelong education for all. Dalam era globalisasi, pekerjaan itu bertambah banyak, orang yang tadinya ahli pertanian, bisa jadi, “Ah saya kok ingin masuk ke profesi yang baru itu,” dia bisa belajar, mungkin vocational training, pendidikan kejuruan, latihan-latihan di BLK dan sebagainya. Itu termasuk bagian dari lifelong education for all. Itu yang ketiga.
Yang keempat adalah bagaimana kita menuju masyarakat berpengetahuan atau knowledge society. Mengapa kita perlu masyarakat kita mesti meningkat basis pengetahuannya? Ya karena mereka siap masuk dalam kehidupan ekonomi, kehidupan politik, kehidupan sosial dan hubungan internasional. Kita tidak ingin saudara-saudara, di negeri kita sudah ada internet, ada email, ada website, ada dunia maya, ada teknologi informasi yang super canggih, tetapi keluar sedikit kita di pedalaman, di daerah, ada gap, ada kesenjangan yang luar biasa. Gap inilah yang tidak baik, karena bisa menimbulkan masalah, ketidakadilan atau ketidaktentraman dalam kehidupan bermasyarakat.
Oleh karena itulah, angkat semua, masyarakat di mana pun, di perkotaan, pinggir perkotaan ataupun di perdesaan, semua harus ditingkatkan basis pengetahuannya, termasuk perlunya pendidikan kewarganegaraan, citizenships, yang aplikatif dengan metode pengajaran yang tepat, jangan yang teoritis. Ya setelah itu tidak punya bayangan yang kuat bagaimana menjadi warga negara yang baik, bagaimana ikut pemilu yang baik, baik ikut pilkada yang baik dan sebagainya.
Saudara-saudara,
Ciri masyarakat yang berpengetahuan, ini penting para educators, para rektor, para pimpinan tenaga pendidikan, adalah mereka yang menguasai iptek, yang menguasai informasi, yang punya daya kritis, dan common sense. Yang memiliki pengetahuan dan kesiapan memilih profesi mau jadi apa dia, mau kerja di mana. Orang yang punya common sense, yang punya the power of reason tidak mudah percaya pada yang irasional, tahayul, rumor yang tidak berdasar dan sebagainya.
Mari kita bangun daya kritis, the power of reason, basis pengetahuan masyarakat kita. Dengan demikian, ada apa pun mereka punya ketahanan, punya resilience untuk menghadapi semuanya itu. Mari kita bangun masyarakat berpengetahuan dimulai dari meningkatkan basis pengetahuan masyarakat kita, menyeluruh, merata di seluruh tanah air.
Yang kelima atau yang terakhir, adalah membangun budaya inovasi. Inovasi, termasuk inovasi teknologi adalah penting untuk memecahkan berbagai masalah yang dihadapi oleh negeri kita maupun oleh dunia. Dengan inovasi, kita akan meningkatkan produktivitas perekonomian kita. Kalau produktif, maka pendapatan negara tinggi, pendapatan orang-seorang juga tinggi. Kita bisa mengatasi krisis pangan, krisis energi, krisis air, krisis lingkungan, karena technological innovation, inovasi teknologi. Kita akan hidup makin efisien, tidak boros, karena ada perangkat, ada mesin, ada fasilitas yang membikin efisien kehidupan kita ini. pemerintahan, pendidikan, dunia usaha akan semakin efisien dan efektif, karena sesuatu yang inovatif yang kita lakukan.
Khusus pendidikan Pak Nuh dan saudara-saudara, saya ingin saudara juga menyumbang bagaimana membikin anak-anak kita memiliki benih-benih inovasi yang bisa dikembangkan di masa depan. Dengan membangun, berkali-kali saya sampaikan, intellectual curiousity. Jangan guru berkata, murid mendengar, harus diubah, murid makin aktif, dikasih pekerjaan rumah untuk membangun imajinasi mereka, the power ofimagination.
Biarkan dia kreatif, mencari-cari, ngarang-ngarang, tapi yang sifatnya konstruktif. Metode teaching as in inquiry learning diterapkan di banyak negara harus kita masuki. Inquiry, ingin tahu mengapa tiba-tiba hujan, mengapa orang bertani bisa sejahtera, mengapa kalau maju harus punya daya saing, why, why, why. The power of reason. Kemudian penelitian, pengembangan kecil-kecilan dimulai, bukan to find opportunity, tapi to create opportunity pada saatnya akan seperti itu.
20 Mei, sebentar lagi akan kami sahkan Komite Inovasi Nasional, yang saya harapkan bisa bertugas bersama-sama pemerintah dan masyarakat luas untuk mengembangkan inovasi di negeri ini.
Itulah 5 pekerjaan rumah kita yang kita laksanakan bersama-sama ke depan. Dan sebagai kesimpulan, saudara-saudara, reformasi di bidang pendidikan perlu terus kita lanjutkan dan tingkatkan dengan 2 perspektif, back to basics. Kembalikan pada hakekat pendidikan, bukan hanya ilmu, tapi juga karakter, juga nilai, lihat kembali kurikulumnya, mata ajarannya, metodologinya, sistem evaluasinya, lihat kembali. Kemudian yang kedua, menjemput masa depan dengan inovasi dan pengembangannya.
Itulah pekerjaan rumah kita semua dan insya Allah dengan kebersamaan, kita akan bisa laksanakan, sehingga negara kita ini makin ke depan makin baik untuk anak cucu kita.
Demikianlah saudara-saudara. Sekali lagi, terima kasih dan penghargaan saya kepada para pendidik di seluruh tanah air dan semoga Hari Pendidikan Nasional ini menggugah tanggung jawab, semangat, dan upaya besar kita untuk membikin bangsa kita makin maju.
Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan


