Doa Seorang Anak Kecil

oleh: Ustadz Rozi, SAIMS

 

 

Ada suatu cerita. Suatu ketika ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab memang begitulah peraturannya.

 

Ada seorang anak bernama Mark. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Mark-lah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya. Yah, memang, mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip di atasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Mark bangga dengan itu semua, sebab, mobil itu buatan tangannya sendiri.

 

Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 pembalap” kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah di antaranya. Namun, sesaat kemudian, Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa.

 

Matanya terpejam, dengan tangan bertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata, “Ya, aku siap!” Dor!!! Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil tu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing. “Ayo..ayo… cepat..cepat, maju..maju”, begitu teriak mereka. Ahha… sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlambai. Dan… Mark-lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Mark. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati. “Terima kasih.”

 

Saat pembagian piala tiba. Mark maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya. “Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan agar kamu menang, bukan?” Mark terdiam. “Bukan, Pak, bukan itu yang aku panjatkan,” kata Mark. Ia lalu melanjutkan, “Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Tuhan untuk menolongku mengalahkan orang lain, aku, hanya bermohon pada Tuhan, supaya aku tak menangis, jika aku kalah.” Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi ruangan.

 

Teman, anak-anak, tampaknya lebih punya kebijaksanaan dibanding kita semua. Mark, tidaklah memohon pada Tuhan untuk menang dalam setiap ujian. Mark, tak memohon Tuhan untuk meluluskan dan mengatur setiap hasil yang ingin diraihnya. Anak itu juga tak meminta Tuhan mengabulkan semua harapannya. Ia tak berdoa untuk menang, dan menyakiti yang lainnya.

 

Namun, Mark, memohon pada Tuhan, agar diberikan kekuatan saat menghadapi itu semua. Ia berdoa, agar diberikan kemuliaan, dan mau menyadari kekurangan dengan rasa bangga. Mungkin, telah banyak waktu yang kita lakukan untuk berdoa pada Tuhan untuk mengabulkan setiap permintaan kita. Terlalu sering juga kita meminta Tuhan untuk menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap ujian. Terlalu sering kita berdoa pada Tuhan, untuk menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada di depan mata.

 

Padahal, bukankah yang kita butuh adalah bimbingan-Nya, tuntunan-Nya, dan panduan-Nya? Kita, sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat. Kita sering lupa, dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini. Tak adakah semangat perjuangan yang mau kita lalui? Saya yakin, Tuhan memberikan kita ujian yang berat, bukan untuk membuat kita lemah, cengeng dan mudah menyerah. Jadi, teman, berdoalah agar kita selalu tegar dalam setiap ujian. Berdoalah agar kita selalu dalam lindungan-Nya saat menghadapi itu ujian tersebut

Pertemuan pengurus ForSAIMS 30 okt 2010

Ada 8 hal yg disepakati dlm rapat tsb.

1. Susunan pengurus
2. Program kerja
3. Adakan family gathering yg dirangkai dg raker pengurus
4. Adakan sosialisasi program penanggulangan kecelakaan dan keamanan di sekolah
5. Membentuk klub enterpreneur saims / KES
6. Menginformasikan scr rutin kegiatam forsaims, salah satunya saat pentas bulanan
7. Akan dipasang papan informasi forsaims.
8. Iuran forsaims akan ditangani fofum kelas.

Mistisme Tengger – Resensi

Ananda kelas V akan lakukan kegiatan sosial di Tengger. Nah, kiranya kita semua perlu perlu punya informasi lebih banyak tentang berbagai hal yang terkait masyarakat tengger.

Resensi buku berjudul Mistisme Tengger ini semoga bisa membantu kita semua.

————————————————————————————————————————————————–

 

Judul Buku       : Mistisme Tengger
Penulis              : Capt. R.P. Suyono
Penerbit            : LKiS, Yogyakarta
Cetakan           : I (Pertama), Juni 2009
Tebal                :  x + 369 halaman
Peresensi          : Humaidiy AS *)

Mistik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah hal-hal gaib yang tidak terjangkau oleh akal manusia, tetapi ada dan nyata.  Para antropolog atau sosiolog mengartikan mistik sebagai subsistem yang ada pada hampir semua sistem religi untuk memenuhi hasrat manusia dalam mengalami dan merasakan “bersatu” dengan Tuhan. Mistik merupakan keyakinan yang hidup dalam alam pikiran kolektif masyarakat. Alam pikiran kolektif akan abadi meskipun masyarakat telah berganti generasi. Demikian pula dengan dunia mistik orang Jawa. Keyakinan ini telah hidup bersamaan dengan masyarakat Jawa. Keyakinan ini telah hidup bersamaan dengan lahirnya masyarakat Jawa, diturunkan dari generasi ke generasi hingga kini.

Sebagaimana judulnya, “Mistisme Tengger”yang disusunoleh Capt. R.P. Suyono ini berusaha merekam kepercayaan orang-orang Tengger dikawasan Gunung Bromo mengenai mikrokosmos dan makrokosmos, hubungannya dengan kekuasaan para dewa dan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia di alam dunia dan swarga. Dari pembahasan asal muasal inilah lahir berbagai kepercayaan dan keyakinan khas Tengger (Jawa) yang disebut ngelmu-ngelmu dan ramalan hidup yang hingga saat ini masih diyakini dan dijalankan oleh mereka.

Buku “Mistisme Tengger” merupakan buku ketiga dari Seri Dunia Mistik Orang Jawa yang disusun oleh Penulis, setelah sebelumnya terbit Dunia Mistik Orang Jawa; Roh, Benda dan Ritual sertaAjaran Rahasia Orang Jawa dengan penerbit yang sama. Sebagaima diakui penulis dalam kata pengantar buku ini, tiga rangkaian penerbitan buku tersebut dilatarbelakangi oleh proses panjang penelaahan naskah-naskah kuno peninggalan Belanda sebelum Perang Dunia II. Salah satunya terhadap De
Javaanxche Geestenwereld, karya seorang javanologi berkebangsaan Belanda bernama Van Hien. Dalam perantauannya sekitar permulaan tahun 1900-an di pedalaman pulau Jawa, Van Hien berhasil mengumpulkan catatan mengenai kebiasaan, mistik dan kebudayaan orang-orang Jawa waktu itu. Hasil catatannya itulah – yang tentu saja berbahasa Belanda–yang masing-masing sekitar 400 halaman, dengan susah payah dialihbahasakan oleh Suyono ke dalam bahasa Indonesia.

Dalam uraiannya, Capt. r.P. Suyono membagi buku ini menjadi empatbelas bab; yakniKisah Penciptaan bumi Menurut Legenda Hindu-Jawa, Para Dewa Orang Hindu, Kegagalan Penciptaan manusia Oleh Brahma, Asal Mula Orang Tengger dan Ilmunya, Pembagian Musim, Manik Maiya, Alasan Oang Tengger Gemar Memakan Bawang,  Perhitungan Musim Orang Tengger-Parsi di Jawa, Hari baik dan Buruk secara umum, Pengaruh Bintang pada Sifat Manusia dan Pekerjaan, Pergantian
Nasib Manusia, Ngelmu-Ngelmu, Versi Lain Perayaan Kasada dan Terjadinya Pohon Kapuk Randu. Dari sini, pembaca dapat memahami bahwa ternyata orang Tengger yang bermukim di kaki gunung Bromo sudah sejak lama menguasai banyak “ilmu”.

Studi tentang Kebudayaan Jawa

Studi mengenai kebudayaan Jawa memang menarik banyak kalangan. Di antaranya terdapat sejumlah buku yang dibuat oleh orang Belanda; salah satunya selain Van Hien adalah PJ Zoetmoelder yang
sudah diterjemahkan dengan judul Manunggaling Kawula Gusti, pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa – Suatu Studi Filsafat (Gramedia, 2000) yang mengkaji kebudayaan Jawa dalam perspektif filsafat. Selain itu ada Niels Mulder, juga seorang Belanda yang menggeluti studi Jawa dalam perspektif mistisme. Doktor ilmu-ilmu Sosial dengan disertasi berjudul Kebatinan dan Kehidupan Sehari-hari di Jawa Dewasa Ini  juga menerbitkan buku berjudul Mystism in Java Ideology in Indonesia yang memiliki kesamaan sekaligus perbedaan dengan kajian yang dilakukan oleh Van Hien.

Letak persamaannya, keduanya meletakkan ketertarikan studi yang erat pada satu titik yang sama: mistisme atau kejawen. Perbedaannya, Mulder mencoba menarik benang merah dari asal muasal orang Jawa dengan praktik sehari-hari yang terjadi dalam masyarakat Jawa, sampai pada pemakaian istilah-istilah Jawa dalam berbangsa dan bernegara (di Indonesia) dalam kisaran tahun tahun 1990-an.

Sebagai seorang antropolog, ia berusaha menguak lebih dalam “misteri orang Jawa”, khususnya Jawa Tengah bagian selatan yang merupakan tempat risetnya.   Sementara buku ini, secara spesifik membahas asal muasal lahirnya berbagai fenomena mistisisme khas Tengger sebagaimana disebutkan di atas.

Ajaran
Mistisme-Kejawen dan Kesempurnaan Hidup dalam berbagai kajian yang ada, orang Jawa, termasuk orang Tengger, selalu mempertanyakan keberadaan mereka. Masyarakat Tengger percaya bahwa nenek moyang mereka adalah orang-orang Hindu Wasiya yang beragama Brahma, yang pada 100 SM mendiami di pantai-pantai sekitar Kota Pasuruan dan Probolinggo. Dengan kedatangan agama Islam di pulau Jawa pada 1426 M, orang-orang Hindu ini kemudian terdesak dari daerah pantai hingga
akhirnya menetap di daerah yang sulit dijangkau oleh para  pendatang, yaitu di daerah pegunungan
Tengger. Di sana mereka membentuk kelompok tersendiri yang hingga kini masih dikenal sebagai orang atau tiang Tengger (Bab 4, hal. 23).

Lebih jauh, pada sekitar abad ke-16, para pemuja Brahma di Tengger kedatangan pelarian dari orang Hindu Parsi (Persia). Akhirnya,  masyarakat Tengger yang semula beragama Brahma beralih ke agama Parsi, yakni agama “Hindu Parsi”.

Ajaran mistis dan ngelmu-ngelmu jika dirunut pada muaranya berasal dari pemujaan terhadap matahari, bulan dan bintang-bintang sebagai pengendali dari keempat unsure utama (api, air, udara dan tanah). Kenyataan ini misalnya dapat dilihat dari ngelmu hitungan, yang berkitan dengan bintang rizki, bintang celaka, bintang gelap dan sebagainya. (hal. 51, 59, 67 da 71).

Dalam tradisi mistik, seperti di Jawa, proses akulturasi agama-agama yang ada memungkinkan teknik spiritual yang ditempuh memang beragam: sebagian memakai semedi disertai mantra, ada yang memusatkan diri pada chakra (pusat okultis di dalam tubuh), ,  beberapa lagi menggunakan dzikr Sufiatau tirta Yoga meditasi di dalam air atau “kungkum”), demi tujuan yang beraneka pula. Juga mengenai lembaga semisal slametan, guru kebatinan dan lain sebagainya yang menjadi media untuk berhubungan dengan Sangkan Paraning Dumadi.  Menurut Paul Stange (2009), semua itu bahkan mencerminkan pluralitas keagamaan di Jawa pada saat ini sekaligus mempengaruhi perjalanan sejarahnya.

Dari penelusuran bab demi bab buku ini, pembaca akan sampai pada premis bahwa masyarakat Jawa sangat kental dengan nuansa intuitif dan penuh kesahajaan dalam menelaah suatu keadaan: perasaan lebih dikedepankan daripada rasio atau pencarian bukti yang lebih konkret, atau dalam bahasa yang lain, lebih mengedepankan aspek rohani/jiwani daripada masalah-masalah  yang phisik atau profan.

Begitu pula adanya ajaran bahwa keberadaan manusia di dunia ini hanyalah “mampir
ngombe” – (numpang/singgah hanya untuk sekedar minum), yang bagi orang Jawa dimaknai bahwa kehidupan dunia ini adalah sementara. Tidak lebih dari sekedar “terminal” menuju Yang Maha Kuasa. Dalam perjalanan itu, orang Jawa perlu melalui tingkatan-tingkatan guna mencapai kesempurnaan hidup. Dengan cara itu, manusia diharapkan akan kembali dan bersatu dengan Tuhan. Orang yang
menganut faham kejawen yakin, Tuhan adalah asal-usul semua yang ada di dunia ini.

Hal lain, pembaca akan menemukan masih digunakannya Bahasa Melayu kuno yang dicampur bahasa Jawa sesuai kebiasaan dahulu, terutama dalam penjelasan bagan-bagan ngelmu  yang berserakan di di beberapa tempat dalam buku setebal 369 halaman ini. Tampak Suyono membiarkan sesuai aslinya agar dapat mudah dirasakan arti dan maknanya. Disamping kenyataan bahwa bahasa Jawa sendiri pun, telah bercampur dari satu daerah dengan daerah lainnya waktu itu. Yang tentu saja pada setiap daerah di Jawa tersebut, mempunyai kekhususan tersendiri dalam ucapan daerah setempat.

Mengagumi Tengger, tentu tak cukup sekedar menyeruput kenikmatan landscape gunung Bromo atau keasyikan menyaksikan perayaan Kasada, lantas mengenal Tengger seutuhnya, untuk sesaat kemudian melupakannya kembali. Hadirnya buku ini, sebagaimana buku-buku sebelumnya, diharapkan tidak hanya memberi wawasan utuh tentang segala aspek yang melingkupi kekayaan kebudayaan Tengger, tetapi juga memberi pencerahan dan kebijaksanaan bagi pembaca untuk lebih menghargai local wisdom (kearifan lokal) yang nota bene adalah milik kita sendiri. Selamat membaca